Semula aku hanya tak sadar bahwa aku mencintainya,.
Ketika dia mulai bercanda bahwa aku mencintainya, perasaan yang tak ku kenal muncul. Perasaan yang tak pasti yang mengalir ke dalam ufuk jiwaku ini kian lama berdiaspora menjadi yang dinamakan cinta.
Aku mengelak dengan hati yang keras, namun kenyataannya rintikan hujan dirimu menekan seluruh pemompa darahku dan membasuh lingkaran sadarku.
Ketika ku bercanda ku bilang kau cantik dan ku bilang aku mencintaimu.
Entah kenapa candaan itu melumat dan bermetamorposis menjadi kenyataan.
Aku sadar, mungkin ini adalah sebuah kerja kehidupan yang begitu menyakitkan.
Ketika ku menyukainya, aku hanya bisa diam, melihat, memperhatikannya dan menyayanginya di suatu tempat hampa yang dipenuhi lukisannya.
Bulan terus berganti dan bumi terus berputar.
Mentari pagi terus menyingsing dan ku pandang, kurasa dan kubayang kehangatannya.
Disini kuteringat kau yang begitu mirip dengan mentari.
Disini pula kau menjadi kekasihku dalam kekosongan.
Kaki terus berjalan dengan waktu, hingga sampai pada sebuah kenangan manis yang kurasa.
Berjalan kita menyusuri tanah, melawan hujan dan haus. Walau ku sedikit ragu tuk mendekatimu. Perjalanan itu terlalu bosan buatku, tapi dengan senyummu dan ceriamu itu bosanku lenyap dengan teriakan kebahagianmu. Menurutku itu adlah kenangan manis buatku, tapi entah menurutnya.
Kenangan itu membuatku lebih dekat mengenalnya secara nyata, bergurau mengarungi malam yang dingin dalam ruangan kelahiran kita. Kita tertawa dalam kearifan dunia. Disana, ditanah ruangan biru jantungku ditabur cintamu, asam dan manis rasa yang kurasa.
Tabur cintamu mulai kental hingga buatku terbunuh ditimpa kesengsaraan. Menamparmu, membuat aku bertarung dengan penyesalan. Ocehanmu adalah pencucian otak yang efektif buatku.
Dan ketika dikala lembayung memudar aku mencoba menyemai keberanian jiwaku unkuk memulai penyampaian rasa cinta untukmu. Setelah itu ku berjalan dengan keraguan ketempat kau melepas penat dan lelah. Di keraguan itu ku berpikir, "apakah aku yang seorang urakan, seorang sampah dan hina ini pantas untuk bersanding dengannya?". Memang tak pantas jawab jiwaku. Hingga bertengkarlah otak, jiwa, dan hatiku. Tiba disana aku ungkapkan rasa cinta ku padanya, dan kulihat dia tertawa terbahak tak percaya, dan ketika dia kaget dengan keseriusan ku dia melamun dan meminta waktu.
Waktu penantian telah tiba langit pun seakan marah dan panasnya menguliti tulangku. Dan kufikir hingga nengitari alam dan berbisik dengan jiwa, "lebih baik kau menolakku karena ku tak sanggup melihatmu sedih dan menderita karenaku, ditinggal sendiri dalam penantian." Dan setalah itu aku berbisik dengan angin, "mungkin ini bukan waktunya kau menerimaku dan saat ini aku siap membunuh perasaanku demi kebahagiaanmu."
Sabtu, 12 Desember 2015
Kamis, 10 Desember 2015
PERANAN GERWANI (GERAKAN WANITA INDONESIA) SEBAGAI GERAKAN PERJUANGAN REVOLUSI SOSIAL INDONESIA TAHUN 1950-1966
PERANAN
GERWANI SEBAGAI GERAKAN PERJUANGAN REVOLUSI SOSIAL INDONESIA TAHUN 1950-1966
Ganjar Adipermana
M. Iyus Jayusman
Jurusan pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan
Universitas Siliwangi Tasikmalaya
ABSTRAK
GANJAR ADIPERMANA. 2015. Peranan GERWANI sebagai Gerakan Revolusi
Sosial Indonesia Tahun 1950-1966. Pendidikan Sejarah. Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan. Universitas Siliwangi.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui proses
terbentuknya GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) dan untuk mengetahui peranan
GERWANI sebagai gerakan perjuangan revolusi Indonesia pada tahun 1950-1966.
Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi
ini adalah metode penelitian historis. Metode penelitian historis yaitu proses
menguji dan menganalisa secara kritis rekaman peninggalan masa lalu.
Tahap-tahap metode penelitian ini meliputi, heuristik, kritik, interpretasi,
dan historiografi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa studi literatur, yaitu
dengan mengumpulkan data dan fakta yang bersumber dari berbagai literatur yang
berkaitan dan relevan dengan permasalahan. Teknik analisis data dalam
penelitian ini dengan melakukan proses kritik intern terhadap data atau sumber
yang belum memiliki validasi dan kredibilitas yang memadai, sehingga memiliki
otensitas dan kredibilitas hingga menjadi fakta yang akan menjadi sumber
penulisan sejarah.
GERWANI merupakan organisasi
perempuan terbesar antara tahun 1950-1966 yang didirikan pada tanggal 4 juni
1950 oleh Umi Sardjono dan S.K Trimurti dengan menghimpun enam organisasi massa
perempuan. Pada konggres pertama GERWIS pada tahun 1951, mengahasilkan nama
GERWANI. Namun, nama GERWANI dipakai secara resmi pada tahun 1954. Program
utama GERWANI adalah mentuntut Undang-Undang Perkawinan, mengkampanyekan
hak-hak perempuan, serta memperjuangkan hak kaum buruh dan tani. GERWANI kerap
menyelenggarakan kursus pemberantasan buta huruf dan membangun sekolah. Selain
itu, GERWANI turut bergabung dalam Gerakan Wanita Demokratis Sedunia (GDWS),
melalui GDWS GERWANI berkampanye tentang penghentian perlombaan persenjataan,
pelarangan percobaan senjata atom, mendukung diadakannya KAA, penghapusan
apartheid, penghapusan diskriminasi rasial dan fasisme, serta mengecam agresi
imperialisme di berbagai negara. Dalam memajukan dan menjaga kedaulatan
Indonesia, GERWANI tidak hanya dengan kata-kata, kampanye, tetapi diimbangi
dengan tindakan dan aksi politik, misalnya Gerwani mendelegasikan kadernya
sebagai sukarelawati dalam proses perjuangan pembebasan Irian Barat dan
menggagalkan pembentukan negara boneka Inggris.
Kata kunci: Peranan GERWANI,
GERWANI
PERANAN
GERWANI SEBAGAI GERAKAN PERJUANGAN REVOLUSI SOSIAL INDONESIA TAHUN 1950-1966
Ganjar Adipermana
Iyus Jayusman
Jurusan pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan
Universitas Siliwangi Tasikmalaya
ABSTRACT
GANJAR ADIPERMANA. 2015. Peranan GERWANI sebagai Gerakan
Revolusi Sosial Indonesia Tahun 1950-1966. History Education. Faculty
of Teacher Training and Sciences. Siliwangi University.
This
thesis aims to determine the formation of GERWANI
process (Gerakan Wanita Indonesia)
and to determine the role of GERWANI
as the movement of the revolutionary struggle of Indonesia in 1950-1966.
The
method used in this thesis is the method of historical research. Methods of
historical research is the process of examining and analyzing critically the
heritage of the past. The stages of this research method includes heuristics,
criticism, interpretation, and historiography. Technique of collecting the data
in this research is the study of literature, namely by collecting data and
facts are sourced from various literature related and relevant to the issues. Technique
of analyzing the data in this study is to make the process of internal critique
of data or sources that do not have adequate validation and credibility, so it has
the authenticity and credibility to be a fact that will be a source of
historical writing.
GERWANI is the largest women's
organization between the years 1950-1966 which was established on 4 June 1950
by Umi Sardjono and SK Trimurti by collecting six mass organizations of women.
At the first congress Gerwis in 1951, it has the result of GERWANI name. However, GERWANI
name is used formally in 1954. The main program of GERWANI is demanding over the Marriage Law, campaigning for women's
rights, and fighting for the rights of the workers and peasants. GERWANI often organizes literacy courses
and build school. In addition, GERWANI also
join with the Gerakan Demokrasi Wanita Sedunia
(GDWS), through GDWS GERWANI
campaigned on termination of the arms race, the prohibition of atomic weapons
testing, to support the holding of KAA,
eradication of apartheid, racial discrimination and fascism, and declaimed the
aggression of imperialism in different countries. To promote and safeguard the
sovereignty of Indonesia, GERWANI not
only with words, the campaign, but it is stable by action and political action,
for example Gerwanidelegate its
cadres as volunteer in the struggle for liberation of West Irian and thwart the
formation of the British puppet state.
Keywords:
Role of GERWANI, GERWANI
I.
Pendahuluan
Pasca
kemerdekaan Indonesia dan didalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
1945, para perempuan mendapatkan kedudukan lebih dan kebebasan dalam bidang
pendidikan maupun politik. Pernyataan dalam preambul UUD 1945 tentang kebebasan
dan keadilan itu, banyak para perempuan yang berperan dalam politik Indonesia,
sehingga para kaum perempuan ikut andil ataupun ikut serta dalam perjuangan
revolusi Indonesia. Ikut serta para perempuan dalam revolusi Indonesia selain dengan
kecintaan terhadap bangsanya sendiri juga didorong dengan pidato-pidato dan
tulisan-tulisan Soekarno yang menerangkan pentingnya peranan wanita dalam
revolusi Indonesia
Semangat
nasionalisme dan semangat revolusioner ini mendasari para perempuan masuk ke
dalam organisasi-organisasi yang bersifat revolusioner ataupun
organisasi-organisasi yang bersifat politik, dan juga banyak dari kaum
perempuan dijadikan kader-kader partai politik. Sehingga kaum hawa berperan
aktif dalam kejadian-kejadian atau pergerakan-pergerakan revolusioner di Indonesia, seperti LASWI
(Laskar Wanita Indonesia), GERWANI
(Gerakan Wanita Indonesia), dan sebagainya. Dari semua organisasi perempuan
yang ada di Indonesia, organisasi tersebut memiliki perbedaan tujuan ataupun
idealisme organisasi, salah satunya GERWANI.
Nama GERWANI
dipakai secara resmi pada tahun 1954, sebelumnya adalah GERWIS (Gerakan Wanita
Istri Sedar) dibentuk pada tahun 1950 yang tergabung dalam
organisasi-organisasi dan perkumpulan-perkumpulan perempuan, yang terdiri dari
istri sedar dan enam organisasi wanita. GERWANI bertujuan atau berlandaskan
untuk memajukan kehidupan bangsa, selain itu GERWANI menitik beratkan pada
permasalahan sosialisme dan feminimisme, termasuk reformasi hukum perkawinan,
hak-hak buruh, dan Nasionalisme Indonesia. GERWANI memiliki jiwa atau semangat
revolusioner yang tinggi, sehingga hubungan antara GERWANI dan PKI semakin
kuat. Sisi lain Gerwani juga merupakan pendukung kuat presiden Soekarno,
dikarenakan kebijakan-kebijakan Soekarno sama dengan tujuan organisasi mereka,
yaitu Nasionalisme dan Sosialismenya. Dalam hal ini, kaum perempuan umumnya dan
GERWANI khususnya kemungkinan berperan penting dalam kejadian-kejadian revolusi
Indonesia hingga jatuhnya Orde Lama.
Berdasarkan
uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam bentuk karya
tulis skripsi dengan judul : “Peranan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia)
Sebagai Gerakan Perjuangan Revolusi Sosial di Indonesia tahun 1950-1966).”
Rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah:
1.
Bagaimana
proses terbentuknya Organisasi GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) ?
2.
Bagaimana
peranan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) pada tahun 1950-1966 ?
Tujuan penelitian ini adalah:
1.
Untuk
mengetahui proses terbentuknya organisasi GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia).
2.
Untuk
mengetahui peranan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) tahun 1950-1966.
Kegunaan Penelitian ini adalah:
1.
Kegunaan
teoritis
Hasil penelitian ini diharapakan dapat berguna
sebagai bahan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan wawasan, penelaahan kajian Sejarah, serta pertimbangan
bagi pendidikan Indonesia terutama mengenai terjadinya perjuangan perempuan sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan,
khususnya penelaahan kajian sejarah tentang gerakan wanita terbesar setelah
kemerdekaan.
2.
Kegunaan
Praktis
Adapun kegunaan praktis dalam hasil penelitian ini adalah
sebagai berikut:
a.
Bagi pelajar
Hasil
penelitian ini dapat dijadikan pegangan,
khususnya bagi para pemuda sebagai harapan bangsa yang tidak boleh lupa akan sejarah
bangsanya sendiri.
b.
Bagi
masyarakat
Meningkatkan
semangat dan rasa nasionalisme masyarakat dalam memajukan bangsa Indonesia.
c.
Bagi Sekolah
Sebagai
bahan pembelajaran sejarah atau sebagai sumber dan referensi dalam
materi-materi yang diajarkan.
d.
Organisasi
Perempuan
sebagai
bahan pembelajaran bagi organisasi - organisasi perempuan Indonesia, serta
perempuan- perempuan dalam mejalankan
organisasi-organisasi politik.
II.
Kajian Teoretis
Suatu
aktivitas perorangan atau organisasi yang dilihat dari beberapa aspek, bisa disebut
peranan. Apabila seseorang atau organisasi melaksanakan hak dan kewajibannya
sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan peranan. (Soekanto, 2003:241).
Peranan yang mencakup
harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan masyarakat (social-position)
merupakan unsur statis yang mewujudkan tempat individu pada organisasi
masyarakat. Peranan lebih banyak menunjukan pada fungsi, penyesuaian diri dan
sebagai suatu proses.
Suatu
permasalahan organisasi adalah masalah “gender”.
Gender pembedaan peranan perempuan dan laki-laki dimana yang membentuk
adalah sejak lahir, “gender’ adalah sesuatu yang dibentuk karena
pemahaman yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. (Riant Nugroho,
2008:1-5)
Gerak
adalah
peralihan tempat atau kedudukan, baik hanya sekali maupun berkali-kali. Pergerakan
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perihal atau keadaan
bergerak atau bisa juga kebangkitan (untuk perjuangan atau perbaikan). (Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008:443-444)
Apabila
suatu pergerakan untuk meraih sesuatu
yang diharapkan demi kemuliaan dan kebaikan, bisa disebut perjuangan.
Penjelasan perjuangan tersebut, dapat dihubungkan dengan masalah revolusi
sosial. Revolusi
sosial bisa diartikan gerakan perubahan
sistem sosial yang berlangsung secara besar-besaran dan tiba-tiba, serta
biasanya menggunakan kekerasan. ‘Pemberontakan
Istana’, yang ditandai oleh perubahan penguasa tanpa adanya perubahan sistem
kelas sosial atau distribusi kekuasaan dan pendapatan dikalangan kelompok
masyarakat, tidak termasuk dalam klasifikasi revolusi sosial. (White, 1949:199)
Sehingga
dalam melakukan perjuangan revolusi dan agar tercapainya maksud dan tujuan
dalam perjuangan revolusi tersbut, harus didukung oleh kelompok atau organisasi
yang salah satunya adalah partai politik. Secara umum dapat dikatakan bahwa
partai politik adalah seuatu kelompok terorganisir yang anggota-anggotanya
mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini
adalah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan
"(biasanya) dengan cara konstitusional" untuk melaksanakan
programnya. (Budiarjo, 2008:403-404)
Partai
politik dibentuk dengan anggapan bahwa membentuk wadah organisasi yang bisa
menyatukan orang-orang yang mempunyai pikiran serupa atau sama sehingga pikiran
dan orientasi mereka bisa dikonsolidasikan. Dengan begitu pengaruh mereka bisa
lebih besar dalam pembuatan dan pelaksanaan keputusan. (Budiarjo, 2008:403)
Partai
politik mempunyai ideologi untuk dasar bergeraknya suatu partai, agar tercapai
tujuan-tujuan partai politik. Salah satu ideologi yang berkembang di dunia
adalah sosialisme-komunisme. Paham komunisme adalah sebagai bentuk reaksi atas
perkembangan masyarakat kapitalis sebagai dari hasil ideologi liberal. Berkembangnya paham individualisme liberalisme yang
berakibat munculnya masyarakat kapitalis, menurut paham komunisme mengakibatkan
penderitaan rakyat, sehingga komunisme muncul sebagai reaksi atas penindasan
rakyat kecil oleh kalangan kapitalis yang didukung pemerintah. Bertolak
belakang dengan paham individualisme
liberalisme, maka komunisme yang dicetuskan melalui pemikiran Karl Marx
memandang bahwa hakikat, kebebasan, dan hak individu itu tidak ada. Ideologi
komunisme mendasarkan pada suatu keyakinan bahwa manusia pada hakikatnya adalah
hanya makhluk sosial saja. Manusia pada hakikatnya adalah sekumpulan relasi,
sehingga yang mutlak adalah komunitas dan bukannya individualitas. Hak milik pribadi pribadi tidak ada, karena hal ini
akan menimbulkan kapitalisme yang
pada gilirannya akan melakukan penindasan pada kaum proletar. (Kaelan., 2010 : 144-145)
Ajaran
sosialisme-komunisme menjadi dasar ideologi partai yang besar, salah satunya Partai
Komunis Indonesia. Partai komunis Indonesia adalah partai politik di Indonesia.
Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai komunis non-penguasa terbesar di
dunia setelah Rusia dan Tiongkok. (M.C. Ricklefs, 1982 : 259)
Pada
Mei 1922, Semaun kembali ke Indonesia setelah berada tujuh bulan di Rusia dan
mulai mengatur semua serikat buruh dalam suatu organisasi. Pada tanggal 22
September, Serikat Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (Persatuan Vakbonded Hindia) dibentuk. Pada kongres
Komintern kelima pada tahun 1924, Semaun menekankan bahwa prioritas utama dari
partai – partai komunis adalah untuk mendapatkan kontrol dari persatuan buruh,
karena tidak mungkin ada revolusi yang sukses tanpa persatuan kelas buruh. (Sinaga,
1960 : 9)
Pada
tahun 1924 nama Persatuan Vakbonded
Hindia diubah menjadi Partai Komunis Indonesia atau bisa disebut PKI. (Kahin,
1952 : 77)
III.
Metode
Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode
penelitian historis.
Metode
penelitian historis yaitu proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman
peninggalan masa lalu. Tahap-tahap metode penelitian ini meliputi, heuristik,
kritik, interpretasi, dan historiografi.
IV.
Hasil Penelitian
dan Pembahasan
A. Proses
terbentuknya GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia)
Pada
awal abad ke-20 perjuangan perjuangan perempuan mulai mengarah pada kemajuan
dalam mencapai kebebasan yang sama dengan laki-laki. Dimulai dengan
merealisasikan gagasan yang dituliskan oleh Kartini mengenai kesadaran tentang
pendidikan bagi perempuan, yang didasari bahwa dengan pendidikan dapat membawa
pengaruh besar terhadap kemajuan dan perubahan karena dari perempuan, awal dari
generasi penerus bangsa menerima didikan, oleh karena itu, bukan tanpa sebab tokoh-tokoh perempuan
terdidik di Indonesia memulai perjuangannya di bidang pendidikan untuk
perempuan. Pada mulanya para kaum perempuan Indonesia membuat
perkumpulan-perkumpulan perempuan yang bertujuan untuk memberikan hak-hak
pendidikan atau pun pengajaran terhadap
kaum perempuan. Sejak tahun 1920, perkumpulan perempuan bertambah banyak dan
terjadi perluasan pengajaran bagi kaum perempuan. Perkumpulan-perkumpulan
perempuan yang semakin meluas di Indonesia hingga banyak organisasi-organisasi
membuat bagian terhadap perempuan dan para perkumpulan tersebut mengadakan
kongres-kongres perempuan.
Kongres Perempuan
Indonesia yang berlangsung tahun 1928 berkelanjutan hingga tahun 1941. Sejak
tahun 1941, tidak lagi diadakan Kongres Perempuan Indonesia.
Kondisi ini terutama sekali disebabkan oleh situasi politik Indonesia yang
berada dalam genggaman Jepang.
Pemerintah pendudukan Jepang tidak hanya mematikan bentuk-bentuk
perkumpulan yang mandiri, tetapi melarang adanya perkumpulan perempuan lain
selain fujinkai. Setelah Indonesia merdeka tidak lagi ada kongres perempuan,
yang ada adalah Kongres Wanita. Kongres Perempuan yang dilangsungkan pada tahun
1928 dan tahun selanjutnya merupakan era kebangkitan perempuan Indonesia.
Karena pada saat inilah pertama kali muncul kesadaran perempuan Indonesia atas
kepentingannya yang berbeda dari rekan pejuang laki-laki. Pada masa itu juga
para perempuan Indonesia dapat berkumpul secara bebas untuk menentukan
kehendaknya.
Setelah kemerdekaan,
pada tahun 1950 perkumpulan-perkumpulan ataupun organisasi-organisasi perempuan
yang tergabung dalam Istri Sedar dan enam organisasi wanita, yaitu RUPINDO (Rukun Putri Indonesia, Semarang), Persatuan Wanita Sedar (Surabaya),
Istri Sedar (Bandung), GERWINDO (Gerakan Wanita Indonesia, Kediri), Wanita
Madura (Madura), dan Perjuangan Putri Republik Indonesia (PPRI, Pasuruan) membentuk GERWIS (Gerakan Wanita Istri
Sedar). Dalam kongres
pertama GERWIS (Gerakan Wanita Istri Sedar) menghasilkan nama GERWANI (Gerakan
Wanita Indonesia) dan diputuskan sebagai pengganti nama organisasi GERWIS (Gerakan Wanita Istri
Sedar), tapi baru tahun 1954 nama GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) dipakai
secara resmi.
Sebagian besar
pendiri GERWANI adalah perempuan – perempuan revolusioner yang pernah terlibat
dalam perjuangan melawan kolonialisme dan revolusi bersenjata pasca kemerdekaan
Indonesia. Pemimpin terkemuka GERWANI adalah SK Trimurti, ia sudah terllibat
dalam pergerakan anti-kolonial bersama Bung Karno. Pasca kemerdekaan, ia
ditunjuk sebagai Menteri Perhubungan. Tokoh lainnya adalah Salawati Daud, ia
menjadi walikota Makassar yang pertama di bawah pemerintahan Republik Indonesia
sekaligus walikota perempuan pertama di Indonesia. Ia aktif dalam pergerakan
anti-kolonial sejak tahun 1930. Selain mengorganisir perlawanan, Salawati Daud
turut bergerilya dan mengangkat senjata melawan Belanda. Tokoh GERWANI yang
lain adalah Soedjinah, Umi Sardjono, dan Soelami.
B.
Peranan
GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) pada tahun 1950-1966
Sejak
berdiri, GERWANI aktif dalam kampanye dan aksi – aksi menuntut pembatalan hasil
Konferensi Meja Bundar (KMB), menentang kembalinya modal asing, dan mengutuk
peristiwa reaksioner 17 Oktober 1952 (upaya sejumlah perwira Angkatan Darat
mengkudeta Soekarno dan membubarkan parlemen).
Tahun
1952, GERWANI aktif dalam memperjuangkan hak-hak kaum tani, seperti di
Semarang, Kendal, Tanjung Morawa (Sumatera Utara), dan Brastagi (Sumatera
Utara). Selain itu, GERWANI aktif memperjuangkan hak – hak buruh perempuan.
Pada tahun1950-an juga GERWANI berhasil mendesak Kongres Wanita Indonesia
(KOWANI) untuk mengadopsi piagam hak – hak perempuan, yang didalamnya ada bab
khusus tentang hak buruh perempuan, seperti hak yang sama antara laki-laki dan
perempuan dalam memasuki semua pekerjaan dan promosi jabatan, kesetaraan upah,
dan penghapusan segala bentuk diskriminasi di tempat kerja. GERWANI dan SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh
Indonesia) juga kerap menggelar aksi bersama
menuntut upah yang sama, cuti menstruasi dan hamil, hak perempuan mendapat
promosi, dan perlakuan sama di tempat kerja.
Sedangkan
pada tahun 1955, GERWANI aktif dalam memperjuangkan Undang–Undang perkawinan
yang demokratis. Di DPRD,
Ketua Umum GERWANI Umi Sardjono menegaskan bahwa perjuangan mengesahkan
Undang–Undang perkawinan harus dipandang sebagai perjuangan melengkapi Revolusi
Nasional. Pada tahun tersebut GERWANI
mengadvokasi seorang perempuan bernama Maisuri, yang dipenjara karena menolak
kawin paksa dan memilih lari dengan pacarnya. GERWANI juga mengecam dan
mengusut tuntas kasus pembunuhan Attamini, seorang perempuan dari keluarga
miskin di Malang, oleh seorang pedagang kaya keturunan Arab.
Selain
itu, GERWANI merupakan salah satu perkumpulan atau organisasi perempuan yang
paling keras menentang poligami, perkawinan anak–anak,
serta pelecehan terhadap perempuan. Bagi GERWANI, pengertian kemerdekaan nasional sepenuhnya meliputi juga
penghapusan terhadap poligami, kawin paksa, pelacuran, dan beban kerja ganda.
Tahun
1957, GERWANI mendukung aktif perjuangan bangsa Indonesia untuk mengusir
kolonialisme Belanda di Irian Barat.
GERWANI bahkan mengirimkan anggotanya untuk menjadi sukarelawati bagi
pembebasan Irian Barat. Selain itu, GERWANI memobilisasi 15.000 wanita ke
Istana Negara saat peringatan Hari Perempuan Sedunia, untuk menentang
pembentukan negara boneka Papua oleh kolonialis Belanda. Pada tahun ini juga,
GERWANI aktif mendukung gerakan buruh untuk menasionalisasi perusahaan asing,
terutama perusahaan milik Belanda. Langkah ini sekaligus merupakan upaya
pemerintahan Soekarno untuk melikuidasi sisa-sisa ekonomi kolonial. Dalam
kampanyenya menasionalisasi terhadap perusahaan minyak Caltex, GERWANI dan
SOBSI menggalang pembantu rumah tangga untuk memboikot majikan mereka. Aksi itu
meluas ke restoran dan toko-toko untuk menolak orang asing.
Sementara
itu tahun 1960-an, GERWANI berkampanye untuk ketersediaan pangan dan sandang
bagi rakyat. Selain itu, GERWANI rajin melakukan aksi demonstrasi untuk
menentang kenaikan bahan pokok. Salah
satu demonstrasi besar yang digalang GERWANI ialah untuk menolak kenaikan harga
terjadi pada tahun 1960. Soekarno merespon aksi tersebut dan berjanji
menurunkan harga dalam tiga tahun.
Di
desa-desa anggota GERWANI giat bekerjasama dengan Barisan Tani Indonesia (BTI)
untuk membela dan memperjuangkan hak- hak kaum tani, seperti hak atas tanah dan
pembagian hasil panen yang adil. GERWANI juga menggelar kursus dan pelatihan
bagi perempuan tani di desa-desa. Selain itu, GERWANI juga aktif memperjuangkan
dilaksanakannya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960 dan Undang-Undang bagi
Hasil (PBH).
Pada
tahun 1962, GERWANI mendukung politik Soekarno untuk mengganyang negara boneka
buatan Inggris di Malaya, yakni Federasi Malaysia. Tak hanya berkampanye dan
menggelar aksi demonstrasi, GERWANI juga mendelegasikan anggotanya untuk
menjadi sukarelawati dan dipersiapkan untuk dikirim dalam operasi TRIKORA.
GERWANI
aktif menentang pemberontakan PRRI/Permesta, yang sesungguhnya dilatarbelakangi
oleh kepentingan imperialisme Amerika Serikat. Bagi GERWANI, meneruskan
revolusi berarti melawan PRRI/Permesta.
Pada
tahun 1960, GERWANI aktif mendukung kampanye pemberantasan buta huruf yang
diserukan oleh Soekarno. Untuk keperluan itu, GERWANI mendirikan tempat-tempat belajar dan
menggelar kursus-kursus untuk pemberantasan buta huruf.
Perjuangan
GERWANI dalam peberantasan buta huruf bukan hanya pada manula dan orang dewasa
saja, melainkan kepada anak-anak. Terbukti GERWANI terus aktif dalam
memperjuangkan hak-hak anak-anak, misalnya mendirikan fasilitas pengasuhan
untuk anak-anak. Pada pertengahan 1960, GERWANI mempunyai 1.500 balai penitipan anak.
Pada tahun 1963, GERWANI resmi mendirikan Yayasan Taman Kanak-Kanak (TK) Melati, yang pengurusnya
bekerja penuh mengurus penitipan anak. Pada tahun 1960-an juga, GERWANI
merumuskan “Panca Cinta”
sebagai pedoman pendidikan anak-anak, yaitu cinta tanah air, cinta orang tua
dan kemanusiaan, cinta kebenaran dan keadilan, cinta persahabatan dan perdamaian, dan cinta
alam sekitar.
Kampanye
pemberantasan korupsi aktif dilakukan GERWANI agar korupsi dapat diberantas
hingga ke akar-akarnya. GERWANI menuding korupsi sebagai salah satu faktor
penyebab kenaikan harga-harga. Beberapa aksi demonstrasi yang digalang GERWANI
berisi tuntutan penghapusan korupsi dan retooling
aparatur negara.
Selain
berkampanye, GERWANI juga aktif menentang pelacuran. Bagi GERWANI, praktek
pelacuran bukan kesalahan perempuan, melainkan faktor kondisi sosial dan
ekonomi yang memaksa perempuan menjadi pelacur. GERWANI yakin, pelacuran akan
lenyap di Indonesia apabila sosialisme sudah dipraktekkan.
Hal
lain yang dilakukan GERWANI adalah aktif dalam menentang pornografi dan memboikot
film-film yang merendahkan martabat perempuan. Pada tahun 1950-an, GERWANI
aktif berkampanye menentang film-film yang mempromosikan kebudayaan imperialis,
terutama film-film dari Amerika Serikat. Selanjutnya, dalam rangka melawan
film-film hasil kebudayaan imperialis, GERWANI juga mendukung berdirinya
Lembaga Film Rakyat.
Hingga
tahun 1964, GERWANI mengklaim punya anggota sebanyak 1.750.000 orang dan mereka
yakin bahwa pada akhir 1965 bisa melipat gandakan anggota menjadi 3 juta orang.
Tak hanya itu, GERWANI
juga mempunyai cabang-cabang yang berdiri dihampir semua daerah. Dengan
banyaknya anggota, GERWANI membuat majalah bulanan dengan nama majalah “Api
Kartini”, yang mengulas persoalan pergerakan perempuan, situasi ekonomi,
sosial, politik nasional, budaya, masalah-masalah perempuan, resep masakan,
jahit-menjahit, dan lain-lain. Majalah ini merupakan salah satu upaya GERWANI
dalam melakukan revolusi sosial.
GERWANI
aktif berkampanye tentang perlunya gerakan politik perempuan dan mendorong
perempuan masuk ke ranah politik.
GERWANI berharap lebih banyak wanita yang menjadi anggota DPR dan DPRD,
kepala desa, bupati, gubernur, menteri, dan lain sebagainya. Sebagai aksi nyata
GERWANI, pada pemilu 1955, sejumlah pemimpin GERWANI masuk daftar calon anggota
DPR melalui PKI.
Selain
didalam negeri, GERWANI aktif dalam Gerakan Perempuan Internasional, khususnya
melalui Gerakan Wanita Demokratis Sedunia (GDWS). Melalui GWDS, GERWANI
berkampanye tentang penghentian perlombaan persenjataan, pelarangan percobaan
senjata atom, mempromosikan perdamaian dan menentang peperangan, mendukung
Konferensi Asia Afrika (KAA), penghapusan Apartheid,
penghapusan diskriminasi rasial dan fasisme, serta mengecam agresi imperialis
diberbagai negara seperti Vietnam, Laos, Kamboja, dan lain- lain.
GERWANI
mendukung konsep Soekarno mengenai demokrasi terpimpin, MANIPOL (manifesto
politik), dan Dekrit Presiden Soekarno untuk kembali ke Undang-Undang Dasar
1945. Hal tersebut membuktikan bahwa GERWANI merupakan pendukung setia
Soekarno, dilihat dari membelanya GERWANI dalam politik Soekarno yang
anti-emperialis dan anti-kolonialis. Dalam mendukung kebijakan Soekarno,
GERWANI tidak hanya bicara dan statemen politik semata, tetapi diimbangi dengan
tindakan nyata serta aksi politik. Misalnya, GERWANI mendelegasikan kadernya
sebagai sukarelawati dalam proses perjuangan pembebasan Irian Barat dan
menggagalkan pembentukan negara boneka Inggris. Selain itu, setelah peristiwa
G30S 1965, ketika kekuasaan Soekarno sudah di ujung tanduk, sejumlah aktivis GERWANI
di persembunyian menerbitkan buletin PKSP (Pendukung Komando Presiden Soekarno)
untuk menggalang massa mempertahankan kekuasaan Soekarno.
V.
Simpulan dan
Saran
A.
Simpulan
Pada 4 Juni 1950, Umi Sardjono dan SK
Trimurti menghimpun enam organisasi massa perempuan dalam wadah Gerakan Wanita
Indonesia Sedar (GERWIS) di semarang, Jawa Tengah. Program utama GERWIS adalah
menuntut Undang-Undang perkawinan, mengkampanyekan hak-hak perempuan serta
memperjuangkan hak kaum buruh dan tani. GERWIS kemudian berubah nama menjadi
Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI) pada konggres pertama di Jakarta, Desember
1951. GERWANI kerap menyelenggarakan kursus
pemberantasan buta huruf dan membangun sekolah serta melakukan propaganda anti
imperialisme.
Selain melakukan
aktivitas penyadaran massa, GERWANI turut bergabung dengan Gerakan Wanita
Demokratis Sedunia (World Women
Democratic Federation), melalui Gerakan Wanita Demokratis Sedunia, GERWANI
berkampanye tentang penghentian perlombaan persenjaataan, pelarangan percobaan
senjata atom, mendukung diadakannya KAA, penghapusan Aparhteid, penghapusan diskriminasi rasial dan fasisme, dan
mengecam agresi imperialisme di berbagai negara. GERWANI merupakan pendukung
setiaSoekarno dari mulai konsep hingga kebajikan-kebijakan politik yang
dikeluarkan oleh Soekarno. Namun, disaat kejayaan organisasi GERWANI mencapai
puncaknya, peristiwa G30S/PKI mengubah semua pergerakan wanita tersebut. Peristiwa itu
menjadi dalih bagi rezim soeharto untuk memberangus gerakan rakyat, termasuk
gerakan perempuan hingga ke akarnya.
B.
Saran
Bersadarkan
pembahasan hasil penelitian, maka saran yang ingin disampaikan oleh penulis
adalah sebagai berikut:
1. Untuk
masyarakat adalah jangan memandang GERWANI itu dari masalah keburukannya, tapi
kita harus memandang atau melihat dari
sisi positifnya dan ini berlaku juga ketika kita memandang PKI, selalu
memperbincangkan keburukannya saja. Karena dalam segala hal yang di dunia ini,
ada sisi positif dan sisi negatif, maksdunya didunia ini tidak ada yang
sempurna dan yang sempurna itu milik Allah SWT. Tidak hanya untuk perempuan,
para kaum adam pun seharusnya membantu gerakan – gerakan perempuan untuk mencapai tujuan – tujuan kaum
perempuan.
2. Untuk
organisasi Perempuan atau Perkumpulan Perempuan dan Kaum Perempuan adalah seharusnya
tidak hanya memperjuangkan kesetaraan gender saja, tetapi bergerak aktif dalam menentang neoliberalisme
dan neokolonialisme yang kebijakan – kebijakannya mengorbankan pihak perempuan.
3. Untuk
pemerintah Indonesia jangan mengabaikan peranan perempuan dalam memajukan
Indonesia, sebab tidak ada pembebasan perempuan di Indonesia tanpa pembebasan
Nasional dan pembebasan Nasional tanpa perempuan di dalamnya. Seharusnya
pemerintah umumnya dan organisasi perempuan khususnya dalam memerangi
pornografi, pelacuran, dan menghalau budaya – budaya barat lebih intesif,
seperti halnya yang dilakukan GERWANI dalam memerangi pornografi, pelacuran,
dan menghalau budaya – budaya barat. Dan juga, untuk pemerintah jangan memanipulasi
fakta-fakta sejarah dalam buku-buku pelajaran maupun dalam pendidikan
4. Untuk
pelajar adalah jangan mengambil mentah-mentah pelajaran atau buku-buku, lebih
baik disaring dulu dan mencari kebenarannya. Dan berbikirlah terbuka dalam
menyikapi kejadian-kejadian masa lalu, terutama sejarah Indonesia.
VI.
Daftar Pustaka
Budiarjo,
Miriam. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Departemen
Pendidikan Indonesia. (2008). Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI). Edisi ke-4. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kaelan.
(2010). Pendidikan Pancasila.
Yogyakarta: PARADIGMA.
Kahin,
George McTurnan.(1952) Nationalism and
Revolution in Indonesia. New York: Cornnel University Press, Ithaca.
Nugroho,
Riant. (2008). Gender dan Strategi
Pengarus-Utamaannya di Indonesia. Yoyakarta: Pustaka Pelajar.
Ricklefs,
M.C. (1982). A History of Modern
Indonesia. London: Mac Millan.
Sinaga,
Edward Djanner. (1960). Communism and the Communism Party in Indonesia. MA Thesis. Washington DC: George
Washington University School of Goverment.
Soekanto,
Soerjono. (2003). Sosiologi Suatu
Pengantar. Jakarta: Raja Grapindo Persada.
White,
L. (1949). The Science of Culture: A
Study of Man and Civilization. New York: Farrar, Straus, and Giroux.