Sabtu, 12 Desember 2015

Cinta atau Kesengsaraan

Semula aku hanya tak sadar bahwa aku mencintainya,.
Ketika dia mulai bercanda bahwa aku mencintainya, perasaan yang tak ku kenal muncul. Perasaan yang tak pasti yang mengalir ke dalam ufuk jiwaku ini kian lama berdiaspora menjadi yang dinamakan cinta.
Aku mengelak dengan hati yang keras, namun kenyataannya rintikan hujan dirimu menekan seluruh pemompa darahku dan membasuh lingkaran sadarku.
Ketika ku bercanda ku bilang kau cantik dan ku bilang aku mencintaimu.
Entah kenapa candaan itu melumat dan bermetamorposis menjadi kenyataan.
Aku sadar, mungkin ini adalah sebuah kerja kehidupan yang begitu menyakitkan.
Ketika ku menyukainya, aku hanya bisa diam, melihat, memperhatikannya dan menyayanginya di suatu tempat hampa yang dipenuhi lukisannya.
Bulan terus berganti dan bumi terus berputar.
Mentari pagi terus menyingsing dan ku pandang, kurasa dan kubayang kehangatannya.
Disini kuteringat kau yang begitu mirip dengan mentari.
Disini pula kau menjadi kekasihku dalam kekosongan.
Kaki terus berjalan dengan waktu, hingga sampai pada sebuah kenangan manis yang kurasa.
Berjalan kita menyusuri tanah, melawan hujan dan haus. Walau ku sedikit ragu tuk mendekatimu. Perjalanan itu terlalu bosan buatku, tapi dengan senyummu dan ceriamu itu bosanku lenyap dengan teriakan kebahagianmu. Menurutku itu adlah kenangan manis buatku, tapi entah menurutnya.
Kenangan itu membuatku lebih dekat mengenalnya secara nyata, bergurau mengarungi malam yang dingin dalam ruangan kelahiran kita. Kita tertawa dalam kearifan dunia. Disana, ditanah ruangan biru jantungku ditabur cintamu, asam dan manis rasa yang kurasa.
Tabur cintamu mulai kental hingga buatku terbunuh ditimpa kesengsaraan. Menamparmu, membuat aku bertarung dengan penyesalan. Ocehanmu adalah pencucian otak yang efektif buatku.
Dan ketika dikala lembayung memudar aku mencoba menyemai keberanian jiwaku unkuk memulai penyampaian rasa cinta untukmu. Setelah itu ku berjalan dengan keraguan ketempat kau melepas penat dan lelah. Di keraguan itu ku berpikir, "apakah aku yang seorang urakan, seorang sampah dan hina ini pantas untuk bersanding dengannya?". Memang tak pantas jawab jiwaku. Hingga bertengkarlah otak, jiwa, dan hatiku. Tiba disana aku ungkapkan rasa cinta ku padanya, dan kulihat dia tertawa terbahak tak percaya, dan ketika dia kaget dengan keseriusan ku dia melamun dan meminta waktu.
Waktu penantian telah tiba langit pun seakan marah dan panasnya menguliti tulangku. Dan kufikir hingga nengitari alam dan berbisik dengan jiwa, "lebih baik kau menolakku karena ku tak sanggup melihatmu sedih dan menderita karenaku, ditinggal sendiri dalam penantian." Dan setalah itu aku berbisik dengan angin, "mungkin ini bukan waktunya kau menerimaku dan saat ini aku siap membunuh perasaanku demi kebahagiaanmu."

Share:

Kamis, 10 Desember 2015

PERANAN GERWANI (GERAKAN WANITA INDONESIA) SEBAGAI GERAKAN PERJUANGAN REVOLUSI SOSIAL INDONESIA TAHUN 1950-1966

PERANAN GERWANI SEBAGAI GERAKAN PERJUANGAN REVOLUSI SOSIAL INDONESIA TAHUN 1950-1966

Ganjar Adipermana
M. Iyus Jayusman
Jurusan pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Siliwangi Tasikmalaya

ABSTRAK
GANJAR ADIPERMANA. 2015. Peranan GERWANI sebagai Gerakan Revolusi Sosial Indonesia Tahun 1950-1966. Pendidikan Sejarah. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Siliwangi.
Penulisan  skripsi ini bertujuan untuk mengetahui proses terbentuknya GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) dan untuk mengetahui peranan GERWANI sebagai gerakan perjuangan revolusi Indonesia pada tahun 1950-1966.
Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode penelitian historis. Metode penelitian historis yaitu proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman peninggalan masa lalu. Tahap-tahap metode penelitian ini meliputi, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Teknik pengumpulan data dalam   penelitian ini berupa studi literatur, yaitu dengan mengumpulkan data dan fakta yang bersumber dari berbagai literatur yang berkaitan dan relevan dengan permasalahan. Teknik analisis data dalam penelitian ini dengan melakukan proses kritik intern terhadap data atau sumber yang belum memiliki validasi dan kredibilitas yang memadai, sehingga memiliki otensitas dan kredibilitas hingga menjadi fakta yang akan menjadi sumber penulisan sejarah.
GERWANI merupakan organisasi perempuan terbesar antara tahun 1950-1966 yang didirikan pada tanggal 4 juni 1950 oleh Umi Sardjono dan S.K Trimurti dengan menghimpun enam organisasi massa perempuan. Pada konggres pertama GERWIS pada tahun 1951, mengahasilkan nama GERWANI. Namun, nama GERWANI dipakai secara resmi pada tahun 1954. Program utama GERWANI adalah mentuntut Undang-Undang Perkawinan, mengkampanyekan hak-hak perempuan, serta memperjuangkan hak kaum buruh dan tani. GERWANI kerap menyelenggarakan kursus pemberantasan buta huruf dan membangun sekolah. Selain itu, GERWANI turut bergabung dalam Gerakan Wanita Demokratis Sedunia (GDWS), melalui GDWS GERWANI berkampanye tentang penghentian perlombaan persenjataan, pelarangan percobaan senjata atom, mendukung diadakannya KAA, penghapusan apartheid, penghapusan diskriminasi rasial dan fasisme, serta mengecam agresi imperialisme di berbagai negara. Dalam memajukan dan menjaga kedaulatan Indonesia, GERWANI tidak hanya dengan kata-kata, kampanye, tetapi diimbangi dengan tindakan dan aksi politik, misalnya Gerwani mendelegasikan kadernya sebagai sukarelawati dalam proses perjuangan pembebasan Irian Barat dan menggagalkan pembentukan negara boneka Inggris.

Kata kunci: Peranan GERWANI, GERWANI



PERANAN GERWANI SEBAGAI GERAKAN PERJUANGAN REVOLUSI SOSIAL INDONESIA TAHUN 1950-1966

Ganjar Adipermana
Iyus Jayusman
Jurusan pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Siliwangi Tasikmalaya

ABSTRACT
GANJAR ADIPERMANA. 2015. Peranan GERWANI sebagai Gerakan Revolusi Sosial Indonesia Tahun 1950-1966. History Education. Faculty of Teacher Training and Sciences. Siliwangi University.
This thesis aims to determine the formation of GERWANI process (Gerakan Wanita Indonesia) and to determine the role of GERWANI as the movement of the revolutionary struggle of Indonesia in 1950-1966.
The method used in this thesis is the method of historical research. Methods of historical research is the process of examining and analyzing critically the heritage of the past. The stages of this research method includes heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Technique of collecting the data in this research is the study of literature, namely by collecting data and facts are sourced from various literature related and relevant to the issues. Technique of analyzing the data in this study is to make the process of internal critique of data or sources that do not have adequate validation and credibility, so it has the authenticity and credibility to be a fact that will be a source of historical writing.
GERWANI is the largest women's organization between the years 1950-1966 which was established on 4 June 1950 by Umi Sardjono and SK Trimurti by collecting six mass organizations of women. At the first congress Gerwis in 1951, it has the result of GERWANI name. However, GERWANI name is used formally in 1954. The main program of GERWANI is demanding over the Marriage Law, campaigning for women's rights, and fighting for the rights of the workers and peasants. GERWANI often organizes literacy courses and build school. In addition, GERWANI also join with the Gerakan Demokrasi Wanita Sedunia (GDWS), through GDWS GERWANI campaigned on termination of the arms race, the prohibition of atomic weapons testing, to support the holding of KAA, eradication of apartheid, racial discrimination and fascism, and declaimed the aggression of imperialism in different countries. To promote and safeguard the sovereignty of Indonesia, GERWANI not only with words, the campaign, but it is stable by action and political action, for example Gerwanidelegate its cadres as volunteer in the struggle for liberation of West Irian and thwart the formation of the British puppet state.

Keywords: Role of GERWANI, GERWANI


I.         Pendahuluan
Pasca kemerdekaan Indonesia dan didalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, para perempuan mendapatkan kedudukan lebih dan kebebasan dalam bidang pendidikan maupun politik. Pernyataan dalam preambul UUD 1945 tentang kebebasan dan keadilan itu, banyak para perempuan yang berperan dalam politik Indonesia, sehingga para kaum perempuan ikut andil ataupun ikut serta dalam perjuangan revolusi Indonesia. Ikut serta para perempuan dalam revolusi Indonesia selain dengan kecintaan terhadap bangsanya sendiri juga didorong dengan pidato-pidato dan tulisan-tulisan Soekarno yang menerangkan pentingnya peranan wanita dalam revolusi Indonesia
Semangat nasionalisme dan semangat revolusioner ini mendasari para perempuan masuk ke dalam organisasi-organisasi yang bersifat revolusioner ataupun organisasi-organisasi yang bersifat politik, dan juga banyak dari kaum perempuan dijadikan kader-kader partai politik. Sehingga kaum hawa berperan aktif dalam kejadian-kejadian atau pergerakan-pergerakan  revolusioner di Indonesia, seperti LASWI (Laskar Wanita Indonesia),  GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia), dan sebagainya. Dari semua organisasi perempuan yang ada di Indonesia, organisasi tersebut memiliki perbedaan tujuan ataupun idealisme organisasi, salah satunya GERWANI.
Nama GERWANI dipakai secara resmi pada tahun 1954, sebelumnya adalah GERWIS (Gerakan Wanita Istri Sedar) dibentuk pada tahun 1950 yang tergabung dalam organisasi-organisasi dan perkumpulan-perkumpulan perempuan, yang terdiri dari istri sedar dan enam organisasi wanita. GERWANI bertujuan atau berlandaskan untuk memajukan kehidupan bangsa, selain itu GERWANI menitik beratkan pada permasalahan sosialisme dan feminimisme, termasuk reformasi hukum perkawinan, hak-hak buruh, dan Nasionalisme Indonesia. GERWANI memiliki jiwa atau semangat revolusioner yang tinggi, sehingga hubungan antara GERWANI dan PKI semakin kuat. Sisi lain Gerwani juga merupakan pendukung kuat presiden Soekarno, dikarenakan kebijakan-kebijakan Soekarno sama dengan tujuan organisasi mereka, yaitu Nasionalisme dan Sosialismenya. Dalam hal ini, kaum perempuan umumnya dan GERWANI khususnya kemungkinan berperan penting dalam kejadian-kejadian revolusi Indonesia hingga jatuhnya Orde Lama.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam bentuk karya tulis skripsi dengan judul : “Peranan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) Sebagai Gerakan Perjuangan Revolusi Sosial di Indonesia tahun 1950-1966).”
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.    Bagaimana proses terbentuknya Organisasi GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) ?
2.    Bagaimana peranan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) pada tahun 1950-1966 ?


Tujuan penelitian ini adalah:
1.    Untuk mengetahui proses terbentuknya organisasi GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia).
2.    Untuk mengetahui peranan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) tahun 1950-1966.
Kegunaan Penelitian ini adalah:
1.    Kegunaan teoritis
Hasil penelitian ini diharapakan dapat berguna sebagai bahan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan wawasan, penelaahan kajian Sejarah, serta pertimbangan bagi pendidikan Indonesia terutama mengenai terjadinya perjuangan perempuan sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan, khususnya penelaahan kajian sejarah tentang gerakan wanita terbesar setelah kemerdekaan.
2.    Kegunaan Praktis
Adapun kegunaan praktis dalam hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.         Bagi pelajar
Hasil penelitian ini dapat dijadikan pegangan, khususnya bagi para pemuda sebagai harapan bangsa yang tidak boleh lupa akan sejarah bangsanya sendiri.
b.         Bagi masyarakat
Meningkatkan semangat dan rasa nasionalisme masyarakat dalam memajukan bangsa Indonesia.
c.         Bagi Sekolah
Sebagai bahan pembelajaran sejarah atau sebagai sumber dan referensi dalam materi-materi yang diajarkan.
d.        Organisasi Perempuan
sebagai bahan pembelajaran bagi organisasi - organisasi perempuan Indonesia, serta perempuan- perempuan dalam mejalankan  organisasi-organisasi politik.

II.      Kajian Teoretis
Suatu aktivitas perorangan atau organisasi yang dilihat dari beberapa aspek, bisa disebut peranan. Apabila seseorang atau organisasi melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan peranan. (Soekanto, 2003:241).
Peranan yang mencakup harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan masyarakat (social-position) merupakan unsur statis yang mewujudkan tempat individu pada organisasi masyarakat. Peranan lebih banyak menunjukan pada fungsi, penyesuaian diri dan sebagai suatu proses.
Suatu permasalahan organisasi adalah masalah “gender”. Gender pembedaan peranan perempuan dan laki-laki dimana yang membentuk adalah sejak lahir, “gender’ adalah sesuatu yang dibentuk karena pemahaman yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. (Riant Nugroho, 2008:1-5)
Gerak adalah peralihan tempat atau kedudukan, baik hanya sekali maupun berkali-kali. Pergerakan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perihal atau keadaan bergerak atau bisa juga kebangkitan (untuk perjuangan atau perbaikan). (Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008:443-444)
Apabila suatu pergerakan untuk meraih sesuatu yang diharapkan demi kemuliaan dan kebaikan, bisa disebut perjuangan. Penjelasan perjuangan tersebut, dapat dihubungkan dengan masalah revolusi sosial. Revolusi sosial bisa diartikan gerakan  perubahan sistem sosial yang berlangsung secara besar-besaran dan tiba-tiba, serta biasanya menggunakan kekerasan. ‘Pemberontakan Istana’, yang ditandai oleh perubahan penguasa tanpa adanya perubahan sistem kelas sosial atau distribusi kekuasaan dan pendapatan dikalangan kelompok masyarakat, tidak termasuk dalam klasifikasi revolusi sosial. (White, 1949:199)
Sehingga dalam melakukan perjuangan revolusi dan agar tercapainya maksud dan tujuan dalam perjuangan revolusi tersbut, harus didukung oleh kelompok atau organisasi yang salah satunya adalah partai politik. Secara umum dapat dikatakan bahwa partai politik adalah seuatu kelompok terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini adalah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan "(biasanya) dengan cara konstitusional" untuk melaksanakan programnya. (Budiarjo, 2008:403-404)
Partai politik dibentuk dengan anggapan bahwa membentuk wadah organisasi yang bisa menyatukan orang-orang yang mempunyai pikiran serupa atau sama sehingga pikiran dan orientasi mereka bisa dikonsolidasikan. Dengan begitu pengaruh mereka bisa lebih besar dalam pembuatan dan pelaksanaan keputusan. (Budiarjo, 2008:403)
Partai politik mempunyai ideologi untuk dasar bergeraknya suatu partai, agar tercapai tujuan-tujuan partai politik. Salah satu ideologi yang berkembang di dunia adalah sosialisme-komunisme. Paham komunisme adalah sebagai bentuk reaksi atas perkembangan masyarakat kapitalis sebagai dari hasil ideologi liberal. Berkembangnya paham individualisme liberalisme yang berakibat munculnya masyarakat kapitalis, menurut paham komunisme mengakibatkan penderitaan rakyat, sehingga komunisme muncul sebagai reaksi atas penindasan rakyat kecil oleh kalangan kapitalis yang didukung pemerintah. Bertolak belakang dengan paham individualisme liberalisme, maka komunisme yang dicetuskan melalui pemikiran Karl Marx memandang bahwa hakikat, kebebasan, dan hak individu itu tidak ada. Ideologi komunisme mendasarkan pada suatu keyakinan bahwa manusia pada hakikatnya adalah hanya makhluk sosial saja. Manusia pada hakikatnya adalah sekumpulan relasi, sehingga yang mutlak adalah komunitas dan bukannya individualitas. Hak milik pribadi pribadi tidak ada, karena hal ini akan menimbulkan kapitalisme yang pada gilirannya akan melakukan penindasan pada kaum proletar. (Kaelan., 2010 : 144-145)
Ajaran sosialisme-komunisme menjadi dasar ideologi partai yang besar, salah satunya Partai Komunis Indonesia. Partai komunis Indonesia adalah partai politik di Indonesia. Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai komunis non-penguasa terbesar di dunia setelah Rusia dan Tiongkok. (M.C. Ricklefs, 1982 : 259)
Pada Mei 1922, Semaun kembali ke Indonesia setelah berada tujuh bulan di Rusia dan mulai mengatur semua serikat buruh dalam suatu organisasi. Pada tanggal 22 September, Serikat Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (Persatuan Vakbonded Hindia) dibentuk. Pada kongres Komintern kelima pada tahun 1924, Semaun menekankan bahwa prioritas utama dari partai – partai komunis adalah untuk mendapatkan kontrol dari persatuan buruh, karena tidak mungkin ada revolusi yang sukses tanpa persatuan kelas buruh. (Sinaga, 1960 : 9)
Pada tahun 1924 nama Persatuan Vakbonded Hindia diubah menjadi Partai Komunis Indonesia atau bisa disebut PKI. (Kahin, 1952 : 77)

III.   Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode penelitian historis. Metode penelitian historis yaitu proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman peninggalan masa lalu. Tahap-tahap metode penelitian ini meliputi, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.

IV.   Hasil Penelitian dan Pembahasan
A.       Proses terbentuknya GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia)
Pada awal abad ke-20 perjuangan perjuangan perempuan mulai mengarah pada kemajuan dalam mencapai kebebasan yang sama dengan laki-laki. Dimulai dengan merealisasikan gagasan yang dituliskan oleh Kartini mengenai kesadaran tentang pendidikan bagi perempuan, yang didasari bahwa dengan pendidikan dapat membawa pengaruh besar terhadap kemajuan dan perubahan karena dari perempuan, awal dari generasi penerus bangsa menerima didikan, oleh karena itu,  bukan tanpa sebab tokoh-tokoh perempuan terdidik di Indonesia memulai perjuangannya di bidang pendidikan untuk perempuan. Pada mulanya para kaum perempuan Indonesia membuat perkumpulan-perkumpulan perempuan yang bertujuan untuk memberikan hak-hak pendidikan  atau pun pengajaran terhadap kaum perempuan. Sejak tahun 1920, perkumpulan perempuan bertambah banyak dan terjadi perluasan pengajaran bagi kaum perempuan. Perkumpulan-perkumpulan perempuan yang semakin meluas di Indonesia hingga banyak organisasi-organisasi membuat bagian terhadap perempuan dan para perkumpulan tersebut mengadakan kongres-kongres perempuan.
Kongres Perempuan Indonesia yang berlangsung tahun 1928 berkelanjutan hingga tahun 1941. Sejak tahun 1941, tidak lagi diadakan Kongres Perempuan Indonesia. Kondisi ini terutama sekali disebabkan oleh situasi politik Indonesia yang berada dalam genggaman Jepang.          Pemerintah pendudukan Jepang tidak hanya mematikan bentuk-bentuk perkumpulan yang mandiri, tetapi melarang adanya perkumpulan perempuan lain selain fujinkai. Setelah Indonesia merdeka tidak lagi ada kongres perempuan, yang ada adalah Kongres Wanita. Kongres Perempuan yang dilangsungkan pada tahun 1928 dan tahun selanjutnya merupakan era kebangkitan perempuan Indonesia. Karena pada saat inilah pertama kali muncul kesadaran perempuan Indonesia atas kepentingannya yang berbeda dari rekan pejuang laki-laki. Pada masa itu juga para perempuan Indonesia dapat berkumpul secara bebas untuk menentukan kehendaknya.
Setelah kemerdekaan, pada tahun 1950 perkumpulan-perkumpulan ataupun organisasi-organisasi perempuan yang tergabung dalam Istri Sedar dan enam organisasi wanita, yaitu RUPINDO (Rukun Putri Indonesia, Semarang), Persatuan Wanita Sedar (Surabaya), Istri Sedar (Bandung), GERWINDO (Gerakan Wanita Indonesia, Kediri), Wanita Madura (Madura), dan Perjuangan Putri Republik Indonesia (PPRI, Pasuruan)  membentuk GERWIS (Gerakan Wanita Istri Sedar). Dalam kongres pertama GERWIS (Gerakan Wanita Istri Sedar) menghasilkan nama GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) dan diputuskan sebagai pengganti nama organisasi GERWIS (Gerakan Wanita Istri Sedar), tapi baru tahun 1954 nama GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) dipakai secara resmi.
Sebagian besar pendiri GERWANI adalah perempuan – perempuan revolusioner yang pernah terlibat dalam perjuangan melawan kolonialisme dan revolusi bersenjata pasca kemerdekaan Indonesia. Pemimpin terkemuka GERWANI adalah SK Trimurti, ia sudah terllibat dalam pergerakan anti-kolonial bersama Bung Karno. Pasca kemerdekaan, ia ditunjuk sebagai Menteri Perhubungan. Tokoh lainnya adalah Salawati Daud, ia menjadi walikota Makassar yang pertama di bawah pemerintahan Republik Indonesia sekaligus walikota perempuan pertama di Indonesia. Ia aktif dalam pergerakan anti-kolonial sejak tahun 1930. Selain mengorganisir perlawanan, Salawati Daud turut bergerilya dan mengangkat senjata melawan Belanda. Tokoh GERWANI yang lain adalah Soedjinah, Umi Sardjono, dan Soelami.
B.       Peranan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) pada tahun 1950-1966
Sejak berdiri, GERWANI aktif dalam kampanye dan aksi – aksi menuntut pembatalan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB), menentang kembalinya modal asing, dan mengutuk peristiwa reaksioner 17 Oktober 1952 (upaya sejumlah perwira Angkatan Darat mengkudeta Soekarno dan membubarkan parlemen).
Tahun 1952, GERWANI aktif dalam memperjuangkan hak-hak kaum tani, seperti di Semarang, Kendal, Tanjung Morawa (Sumatera Utara), dan Brastagi (Sumatera Utara). Selain itu, GERWANI aktif memperjuangkan hak – hak buruh perempuan. Pada tahun1950-an juga GERWANI berhasil mendesak Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) untuk mengadopsi piagam hak – hak perempuan, yang didalamnya ada bab khusus tentang hak buruh perempuan, seperti hak yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam memasuki semua pekerjaan dan promosi jabatan, kesetaraan upah, dan penghapusan segala bentuk diskriminasi di tempat kerja. GERWANI dan SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) juga kerap menggelar aksi bersama menuntut upah yang sama, cuti menstruasi dan hamil, hak perempuan mendapat promosi, dan perlakuan sama di tempat kerja.
Sedangkan pada tahun 1955, GERWANI aktif dalam memperjuangkan Undang–Undang perkawinan yang demokratis. Di DPRD, Ketua Umum GERWANI Umi Sardjono menegaskan bahwa perjuangan mengesahkan Undang–Undang perkawinan harus dipandang sebagai perjuangan melengkapi Revolusi Nasional. Pada tahun tersebut  GERWANI mengadvokasi seorang perempuan bernama Maisuri, yang dipenjara karena menolak kawin paksa dan memilih lari dengan pacarnya. GERWANI juga mengecam dan mengusut tuntas kasus pembunuhan Attamini, seorang perempuan dari keluarga miskin di Malang, oleh seorang pedagang kaya keturunan Arab.
Selain itu, GERWANI merupakan salah satu perkumpulan atau organisasi perempuan yang paling keras menentang poligami, perkawinan anak–anak, serta pelecehan terhadap perempuan. Bagi GERWANI, pengertian kemerdekaan nasional sepenuhnya meliputi juga penghapusan terhadap poligami, kawin paksa, pelacuran, dan beban kerja ganda.
Tahun 1957, GERWANI mendukung aktif perjuangan bangsa Indonesia untuk mengusir kolonialisme Belanda di Irian Barat.    GERWANI bahkan mengirimkan anggotanya untuk menjadi sukarelawati bagi pembebasan Irian Barat. Selain itu, GERWANI memobilisasi 15.000 wanita ke Istana Negara saat peringatan Hari Perempuan Sedunia, untuk menentang pembentukan negara boneka Papua oleh kolonialis Belanda. Pada tahun ini juga, GERWANI aktif mendukung gerakan buruh untuk menasionalisasi perusahaan asing, terutama perusahaan milik Belanda. Langkah ini sekaligus merupakan upaya pemerintahan Soekarno untuk melikuidasi sisa-sisa ekonomi kolonial. Dalam kampanyenya menasionalisasi terhadap perusahaan minyak Caltex, GERWANI dan SOBSI menggalang pembantu rumah tangga untuk memboikot majikan mereka. Aksi itu meluas ke restoran dan toko-toko untuk menolak orang asing.
Sementara itu tahun 1960-an, GERWANI berkampanye untuk ketersediaan pangan dan sandang bagi rakyat. Selain itu, GERWANI rajin melakukan aksi demonstrasi untuk menentang kenaikan bahan pokok.  Salah satu demonstrasi besar yang digalang GERWANI ialah untuk menolak kenaikan harga terjadi pada tahun 1960. Soekarno merespon aksi tersebut dan berjanji menurunkan harga dalam tiga tahun.
Di desa-desa anggota GERWANI giat bekerjasama dengan Barisan Tani Indonesia (BTI) untuk membela dan memperjuangkan hak- hak kaum tani, seperti hak atas tanah dan pembagian hasil panen yang adil. GERWANI juga menggelar kursus dan pelatihan bagi perempuan tani di desa-desa. Selain itu, GERWANI juga aktif memperjuangkan dilaksanakannya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960 dan Undang-Undang bagi Hasil (PBH).
Pada tahun 1962, GERWANI mendukung politik Soekarno untuk mengganyang negara boneka buatan Inggris di Malaya, yakni Federasi Malaysia. Tak hanya berkampanye dan menggelar aksi demonstrasi, GERWANI juga mendelegasikan anggotanya untuk menjadi sukarelawati dan dipersiapkan untuk dikirim dalam operasi TRIKORA.
GERWANI aktif menentang pemberontakan PRRI/Permesta, yang sesungguhnya dilatarbelakangi oleh kepentingan imperialisme Amerika Serikat. Bagi GERWANI, meneruskan revolusi berarti melawan PRRI/Permesta.
Pada tahun 1960, GERWANI aktif mendukung kampanye pemberantasan buta huruf yang diserukan oleh Soekarno. Untuk keperluan itu, GERWANI mendirikan tempat-tempat belajar dan menggelar kursus-kursus untuk pemberantasan buta huruf.
Perjuangan GERWANI dalam peberantasan buta huruf bukan hanya pada manula dan orang dewasa saja, melainkan kepada anak-anak. Terbukti GERWANI terus aktif dalam memperjuangkan hak-hak anak-anak, misalnya mendirikan fasilitas pengasuhan untuk anak-anak. Pada pertengahan 1960, GERWANI mempunyai 1.500 balai penitipan anak. Pada tahun 1963, GERWANI resmi mendirikan Yayasan Taman Kanak-Kanak (TK) Melati, yang pengurusnya bekerja penuh mengurus penitipan anak. Pada tahun 1960-an juga, GERWANI merumuskan “Panca Cinta” sebagai pedoman pendidikan anak-anak, yaitu cinta tanah air, cinta orang tua dan kemanusiaan, cinta kebenaran dan keadilan, cinta persahabatan dan perdamaian, dan cinta alam sekitar.
Kampanye pemberantasan korupsi aktif dilakukan GERWANI agar korupsi dapat diberantas hingga ke akar-akarnya. GERWANI menuding korupsi sebagai salah satu faktor penyebab kenaikan harga-harga. Beberapa aksi demonstrasi yang digalang GERWANI berisi tuntutan penghapusan korupsi dan retooling aparatur negara.
Selain berkampanye, GERWANI juga aktif menentang pelacuran. Bagi GERWANI, praktek pelacuran bukan kesalahan perempuan, melainkan faktor kondisi sosial dan ekonomi yang memaksa perempuan menjadi pelacur. GERWANI yakin, pelacuran akan lenyap di Indonesia apabila sosialisme sudah dipraktekkan.
Hal lain yang dilakukan GERWANI adalah aktif dalam menentang pornografi dan memboikot film-film yang merendahkan martabat perempuan. Pada tahun 1950-an, GERWANI aktif berkampanye menentang film-film yang mempromosikan kebudayaan imperialis, terutama film-film dari Amerika Serikat. Selanjutnya, dalam rangka melawan film-film hasil kebudayaan imperialis, GERWANI juga mendukung berdirinya Lembaga Film Rakyat.
Hingga tahun 1964, GERWANI mengklaim punya anggota sebanyak 1.750.000 orang dan mereka yakin bahwa pada akhir 1965 bisa melipat gandakan anggota menjadi 3 juta orang. Tak hanya itu, GERWANI juga mempunyai cabang-cabang yang berdiri dihampir semua daerah. Dengan banyaknya anggota, GERWANI membuat majalah bulanan dengan nama majalah “Api Kartini”, yang mengulas persoalan pergerakan perempuan, situasi ekonomi, sosial, politik nasional, budaya, masalah-masalah perempuan, resep masakan, jahit-menjahit, dan lain-lain. Majalah ini merupakan salah satu upaya GERWANI dalam melakukan revolusi sosial.
GERWANI aktif berkampanye tentang perlunya gerakan politik perempuan dan mendorong perempuan masuk ke ranah politik.  GERWANI berharap lebih banyak wanita yang menjadi anggota DPR dan DPRD, kepala desa, bupati, gubernur, menteri, dan lain sebagainya. Sebagai aksi nyata GERWANI, pada pemilu 1955, sejumlah pemimpin GERWANI masuk daftar calon anggota DPR melalui PKI.
Selain didalam negeri, GERWANI aktif dalam Gerakan Perempuan Internasional, khususnya melalui Gerakan Wanita Demokratis Sedunia (GDWS). Melalui GWDS, GERWANI berkampanye tentang penghentian perlombaan persenjataan, pelarangan percobaan senjata atom, mempromosikan perdamaian dan menentang peperangan, mendukung Konferensi Asia Afrika (KAA), penghapusan Apartheid, penghapusan diskriminasi rasial dan fasisme, serta mengecam agresi imperialis diberbagai negara seperti Vietnam, Laos, Kamboja, dan lain- lain.
GERWANI mendukung konsep Soekarno mengenai demokrasi terpimpin, MANIPOL (manifesto politik), dan Dekrit Presiden Soekarno untuk kembali ke Undang-Undang Dasar 1945. Hal tersebut membuktikan bahwa GERWANI merupakan pendukung setia Soekarno, dilihat dari membelanya GERWANI dalam politik Soekarno yang anti-emperialis dan anti-kolonialis. Dalam mendukung kebijakan Soekarno, GERWANI tidak hanya bicara dan statemen politik semata, tetapi diimbangi dengan tindakan nyata serta aksi politik. Misalnya, GERWANI mendelegasikan kadernya sebagai sukarelawati dalam proses perjuangan pembebasan Irian Barat dan menggagalkan pembentukan negara boneka Inggris. Selain itu, setelah peristiwa G30S 1965, ketika kekuasaan Soekarno sudah di ujung tanduk, sejumlah aktivis GERWANI di persembunyian menerbitkan buletin PKSP (Pendukung Komando Presiden Soekarno) untuk menggalang massa mempertahankan kekuasaan Soekarno.

V.      Simpulan dan Saran
A.       Simpulan
Pada 4 Juni 1950, Umi Sardjono dan SK Trimurti menghimpun enam organisasi massa perempuan dalam wadah Gerakan Wanita Indonesia Sedar (GERWIS) di semarang, Jawa Tengah. Program utama GERWIS adalah menuntut Undang-Undang perkawinan, mengkampanyekan hak-hak perempuan serta memperjuangkan hak kaum buruh dan tani. GERWIS kemudian berubah nama menjadi Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI) pada konggres pertama di Jakarta, Desember 1951. GERWANI kerap menyelenggarakan kursus pemberantasan buta huruf dan membangun sekolah serta melakukan propaganda anti imperialisme.
Selain melakukan aktivitas penyadaran massa, GERWANI turut bergabung dengan Gerakan Wanita Demokratis Sedunia (World Women Democratic Federation), melalui Gerakan Wanita Demokratis Sedunia, GERWANI berkampanye tentang penghentian perlombaan persenjaataan, pelarangan percobaan senjata atom, mendukung diadakannya KAA, penghapusan Aparhteid, penghapusan diskriminasi rasial dan fasisme, dan mengecam agresi imperialisme di berbagai negara. GERWANI merupakan pendukung setiaSoekarno dari mulai konsep hingga kebajikan-kebijakan politik yang dikeluarkan oleh Soekarno. Namun, disaat kejayaan organisasi GERWANI mencapai puncaknya, peristiwa G30S/PKI mengubah semua pergerakan wanita tersebut. Peristiwa itu menjadi dalih bagi rezim soeharto untuk memberangus gerakan rakyat, termasuk gerakan perempuan hingga ke akarnya.
B.       Saran
Bersadarkan pembahasan hasil penelitian, maka saran yang ingin disampaikan oleh penulis adalah sebagai berikut:
1.    Untuk masyarakat adalah jangan memandang GERWANI itu dari masalah keburukannya, tapi kita harus  memandang atau melihat dari sisi positifnya dan ini berlaku juga ketika kita memandang PKI, selalu memperbincangkan keburukannya saja. Karena dalam segala hal yang di dunia ini, ada sisi positif dan sisi negatif, maksdunya didunia ini tidak ada yang sempurna dan yang sempurna itu milik Allah SWT. Tidak hanya untuk perempuan, para kaum adam pun seharusnya membantu gerakan – gerakan  perempuan untuk mencapai tujuan – tujuan kaum perempuan.
2.    Untuk organisasi Perempuan atau Perkumpulan Perempuan dan Kaum Perempuan adalah seharusnya tidak hanya memperjuangkan kesetaraan gender saja, tetapi  bergerak aktif dalam menentang neoliberalisme dan neokolonialisme yang kebijakan – kebijakannya mengorbankan pihak perempuan.
3.    Untuk pemerintah Indonesia jangan mengabaikan peranan perempuan dalam memajukan Indonesia, sebab tidak ada pembebasan perempuan di Indonesia tanpa pembebasan Nasional dan pembebasan Nasional tanpa perempuan di dalamnya. Seharusnya pemerintah umumnya dan organisasi perempuan khususnya dalam memerangi pornografi, pelacuran, dan menghalau budaya – budaya barat lebih intesif, seperti halnya yang dilakukan GERWANI dalam memerangi pornografi, pelacuran, dan menghalau budaya – budaya barat. Dan juga, untuk pemerintah jangan memanipulasi fakta-fakta sejarah dalam buku-buku pelajaran maupun dalam pendidikan
4.    Untuk pelajar adalah jangan mengambil mentah-mentah pelajaran atau buku-buku, lebih baik disaring dulu dan mencari kebenarannya. Dan berbikirlah terbuka dalam menyikapi kejadian-kejadian masa lalu, terutama sejarah Indonesia.



VI.   Daftar Pustaka

Budiarjo, Miriam. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Departemen Pendidikan Indonesia. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Edisi ke-4. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kaelan. (2010). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: PARADIGMA.

Kahin, George McTurnan.(1952) Nationalism and Revolution in Indonesia. New York: Cornnel University Press, Ithaca.

Nugroho, Riant. (2008). Gender dan Strategi Pengarus-Utamaannya di Indonesia. Yoyakarta: Pustaka Pelajar.

Ricklefs, M.C. (1982). A History of Modern Indonesia. London: Mac Millan.

Sinaga, Edward Djanner. (1960). Communism and the Communism Party in Indonesia. MA Thesis. Washington DC: George Washington University School of Goverment.

Soekanto, Soerjono. (2003). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grapindo Persada.

White, L. (1949). The Science of Culture: A Study of Man and Civilization. New York: Farrar, Straus, and Giroux.

Share: