Mendaki gunung sekarang menjadi trend masa kini dari
orang tua sampai anak kecil berlomba menuju puncak gunung. Dari organisasi
hingga komunitas yang berlatar belakang pecinta alam sudah bertebar di setiap
kota hingga ke jenjang pendidikan. Minat manusia terhadap salah satu olahraga ekstrim
ini semakin merebak. Sekarang mendaki gunung ibarat bermain dibelakang halaman
rumah. Ingat, kematian adalah bayarannya!
Film-film layar lebar dengan bertema mendaki gunung menjadi
salah satu virus bagi umat manusia. Banyak orang berbondong-bondong untuk mendaki
gunung dengan materi bisa dibilang NOL. Kebanyakan para pendaki baru yang bisa
dibilang minim pengetahuan ditemukan tewas didasar jurang, tersesat, dll.
Agar meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan, ada
baiknya kita mengetahui kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan para pendaki baru,
Yaitu:
1.
Jadi Sok Jagoan
Ada
kalanya para pendaki baru ini begitu haus akan tantangan. Karena hal itu tak sedikit dari mereka
yang dengan percaya diri naik gunung lewat jalur tidak resmi.
Mereka dengan berani mencoba jalur pendakian baru
yang belum pernah dilewati atas nama “haus akan petualangan”. Namun parahnya,
para pendaki pemula melewati jalur baru ini tanpa kemampuan navigasi
yang baik. Tidak bisa membaca arah mata angin dan tidak bias membaca peta topografi atau kompas adalah masalah pendaki pemula.
Lantas mau mengandalkan
GPS HP di puncak gunung? Tak ada sinyal
bung! Belum lagi jika dipikir lebih jauh, mencari jalur baru bias saja merusak ekosistem kehidupan
liar. Hasilnya, mereka para pendaki pemula ini akan tersesat, bertemu dengan hewan liar dan akhirnya ditandu tim
SAR kerumah sakit. Kemungkinan lebih buruknya? Ditemukan mati kedinginan di bawah jurang.
2.
Bekal Makan Tak Diatur
Bekal makanan adalah hal penting saat mendaki gunung. Dari para pendaki pemula atau
yang sok-sokan ingin disebut pendaki, biasanya berpikir kalau mendaki identik dengan mie instan sehingga bekal
yang dibawa kebanyakan mie instan. Padahal untuk mendaki gunung,
dibutuhkan tenaga besar dengan kalori
rata-rata dua kali kegiatanmu sehari-hari. Para pendaki pemula biasanya memasak makanan tidak sempurna seperti nasi tidak matang dan masih keras.
Belum lagi mie instan yang sulit dicerna tubuh menambah buruk kondisi mereka.
Untuk itu, saat mendaki gunung ada baiknya kamu memperbanyak daging-dagingan berlemak atau setidaknya cokelat.
Satu batang cokelat bias membuatmu bertahan hidup
di gunung lho
3.
Packing
Peralatan Yang Kacau.
Salah
satu hal yang kerap dipandang remeh para pendaki pemula adalah urusan
packing atau mengepak dan menata barang
di ransel (carrier). Padahal seluruh barang bawaan saat mendaki gunung itu harus masuk ke dalam carrier dan tak ada
yang boleh tergantung di luar ransel selain botol
air minum. Kedua tanganmu harus dalam kondisi bebas untuk memegang tongkat atau akar-akar pohon.
Hanya saja pendaki pemula kerap menggantungkan barang mereka ke ransel dengan tangan membawa
sleeping bag dan tenda karena packing seenakudel.
Belum lagi carrier pendaki pemula kerap tidak dilindungi oleh
cover bag. Padahal udara gunung yang dingin bias menimbulkan embun
yang membasahi ransel. Bisa dibayangkan dong saat kamu mau ganti baju
di malam hari, eh semua baju
di dalam tas sudah basah? Nekat tidur dalam kondisi basah? Selamatdatang di Hipotermia, penyebab utama kematian pendaki gunung.
4.
Ingin Menjadi Yang Tercepat.
Satu lagi cirri khas pendaki pemula adalah mereka ingin segera cepat sampai ke puncak. Apa tujuannya?
Biar disangka hebat dan bisa selfie di puncak dengan segera. Padahal bisa-bisa karena pengen sok cepat,
tak sadar ototnya cedera. Para pendaki pemula merasa haram hukumnya ada di belakang sendiri karena akan dianggap lemah.
Padahal tahukah kamu?
Dalam sebuah grup pendakian ideal, ada sosok terkuat dan
paling bisa diandalkan yang berjalan paling belakang. bernama Sweeper. Sosok itu adalah yang paling bertanggungjawab karena memastikan tak ada anggota yang tertinggal di belakang. Untuk itulah kerjasama tim diperlukan dalam pendakian.
Mendaki gunung dalam rombongan harus saling pengertian,
mereka yang merasa lelah jangan malu mengakui dan mereka yang masih kuat harus mendampingi rekannya yang mulai lelah dan ikut istirahat. Jangan sampai kamu Cuma mengejar ingin cepat sampai
di gunung, akhirnya melupakan temanmu di belakang sehingga dia tewas kelelahan.
5. Gunung Bukan Untuk Ditaklukan
Mereka yang disebut pendaki pemula biasanya naik gunung dengan tujuan ingin punya foto saat di puncak supaya bisa
pamer di sosial media. Rasa bangga dan level keren meningkat saat bisa
menaklukkan gunung. Tunggu, gunung bisa ditaklukkan? Kamu salah bung! Tak ada satu pun manusia yang bisa menaklukkan gunung.
Jadi,
mulai sekarang kamu
para pendaki harus mengingat baik-baik, tujuan naik gunung adalah untuk menghargai ciptaan Tuhan Semesta Alam.
Ada yang bilang, sifat asli manusia akan terungkap saat dia naik gunung.
Ya, hakikat naik gunung itu sama seperti kehidupan.
Akan ada jalanan yang terjal, rintangan, mendaki atau menuruni tanah yang curam. Kamu akan merasa menyerah dan kakimu mati
rasa. Namun di hatimu, tujuan untuk bisa
berada di tempat yang lebih tinggi demi mengagumi alam semesta inilah yang membuat kakimu melangkah lebih jauh. Salam lestari, cintailah gunung dan hormatilah gunung selama kamu mendaki di sana. JANGAN LUPA FOLLOW !!!