Semula aku hanya tak sadar bahwa aku mencintainya,.
Ketika dia mulai bercanda bahwa aku mencintainya, perasaan yang tak ku kenal muncul. Perasaan yang tak pasti yang mengalir ke dalam ufuk jiwaku ini kian lama berdiaspora menjadi yang dinamakan cinta.
Aku mengelak dengan hati yang keras, namun kenyataannya rintikan hujan dirimu menekan seluruh pemompa darahku dan membasuh lingkaran sadarku.
Ketika ku bercanda ku bilang kau cantik dan ku bilang aku mencintaimu.
Entah kenapa candaan itu melumat dan bermetamorposis menjadi kenyataan.
Aku sadar, mungkin ini adalah sebuah kerja kehidupan yang begitu menyakitkan.
Ketika ku menyukainya, aku hanya bisa diam, melihat, memperhatikannya dan menyayanginya di suatu tempat hampa yang dipenuhi lukisannya.
Bulan terus berganti dan bumi terus berputar.
Mentari pagi terus menyingsing dan ku pandang, kurasa dan kubayang kehangatannya.
Disini kuteringat kau yang begitu mirip dengan mentari.
Disini pula kau menjadi kekasihku dalam kekosongan.
Kaki terus berjalan dengan waktu, hingga sampai pada sebuah kenangan manis yang kurasa.
Berjalan kita menyusuri tanah, melawan hujan dan haus. Walau ku sedikit ragu tuk mendekatimu. Perjalanan itu terlalu bosan buatku, tapi dengan senyummu dan ceriamu itu bosanku lenyap dengan teriakan kebahagianmu. Menurutku itu adlah kenangan manis buatku, tapi entah menurutnya.
Kenangan itu membuatku lebih dekat mengenalnya secara nyata, bergurau mengarungi malam yang dingin dalam ruangan kelahiran kita. Kita tertawa dalam kearifan dunia. Disana, ditanah ruangan biru jantungku ditabur cintamu, asam dan manis rasa yang kurasa.
Tabur cintamu mulai kental hingga buatku terbunuh ditimpa kesengsaraan. Menamparmu, membuat aku bertarung dengan penyesalan. Ocehanmu adalah pencucian otak yang efektif buatku.
Dan ketika dikala lembayung memudar aku mencoba menyemai keberanian jiwaku unkuk memulai penyampaian rasa cinta untukmu. Setelah itu ku berjalan dengan keraguan ketempat kau melepas penat dan lelah. Di keraguan itu ku berpikir, "apakah aku yang seorang urakan, seorang sampah dan hina ini pantas untuk bersanding dengannya?". Memang tak pantas jawab jiwaku. Hingga bertengkarlah otak, jiwa, dan hatiku. Tiba disana aku ungkapkan rasa cinta ku padanya, dan kulihat dia tertawa terbahak tak percaya, dan ketika dia kaget dengan keseriusan ku dia melamun dan meminta waktu.
Waktu penantian telah tiba langit pun seakan marah dan panasnya menguliti tulangku. Dan kufikir hingga nengitari alam dan berbisik dengan jiwa, "lebih baik kau menolakku karena ku tak sanggup melihatmu sedih dan menderita karenaku, ditinggal sendiri dalam penantian." Dan setalah itu aku berbisik dengan angin, "mungkin ini bukan waktunya kau menerimaku dan saat ini aku siap membunuh perasaanku demi kebahagiaanmu."
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan