Minggu, 26 Februari 2017

Dampak Penggunaan Celana Jeans Saat Mendaki Gunung

Celana jeans merupakan  pakaian yang tak pernah luntur walau tergerus jaman. Banyak model-model atau bisa disebut modifikasi celana jeans dari tahun ke tahun. Celana jeans ketat adalah salah satu trend yang populer masa kini, terutama anak muda. Celana jeans juga memberi perasaan serta penampilan  elegan dan megah bagi pemakainya. Namun penggunaan celana jeans itu ibarat kotak pandora, kelihatan elegan tetapi didalamnya merusak. Untuk informasi pemakaian celana jeans, mari kita mempelajari dari  tanggapan para ahli dibidangnya masing-masing mengenai pemakaian atau penggunaan celana jeans, yaitu:
1.        Menurut ahli bedah
Menurut Karen Boyle, seorang ahli bedah di Greater Baltimore Medical Center (USA),  jeans ketat bisa memicu meralgia paresthetica, yaitu suatu kondisi yang meremas saraf yang melewati daerah luar paha, dan yang menyebabkan mati rasa, terbakar, dan sensasi kesemutan. Jeans ketat diyakini dapat menimbulkan tekanan konstan pada saraf, yang dapat menyebabkan apa yang dikenal dengan sindrom kesemutan paha. Celana jeans terlalu ketat, yang umumnya lebih sering dipakai oleh wanita, akan meningkatkan risiko meralgia paresthetica. Orang yang memakai skinny jeans ultra ketat cenderung mengalami perasaan geli yang tidak biasa,  yang dirasakan naik dan turun sepanjang paha. Semua ini adalah gejala kerusakan saraf. Penekanan syaraf yang berulang dapat menyebabkan kerusakan permanen.
2.        Menurut ahli terapi fisik
Ahli terapi fisik berpendapat bahwa saraf kutaneus lateral pada paha berperan penting untuk memberikan sensasi ke bagian  atas dan bawah kaki. Oleh karena itu, membungkus kaki dengan jeans ketat bisa menjepit saraf kutan lateral, yang akan memberikan kaki atas dan bawah mengalami sensasi mengambang sambil berjalan. Hal ini akan memberikan perasaan kaki seperti tidak ada pada tubuh. Selain sensasi yang  aneh ini, orang tersebut bisa mengalami kelemahan di bagian paha.
3.        Menurut Neurolog
Neurolog juga menegaskan bahwa penggunaan jeans ketat akan membuat tekanan berlebihan pada saraf kutan lateral, yang menyebabkan sindrom kesemutan paha. Selain menyebabkan perasaan geli pada paha, mengenakan jeans ketat juga diyakini dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada perut, pembekuan darah, mulas, dan nyeri punggung bagian bawah. Pemakai jeans ketat yang mengeluhkan paha seperti mati rasa merupakan indikasi jika sirkulasi darah pada paha tidak memadai. Jika Anda mengabaikan ketidaknyamanan ini, mungkin pada akhirnya akan memicu kerusakan syaraf peranen.

Bagi pendaki gunung dengan seringnya berjalan hampir berjam-jam harus memikirkan perencanan pendakian semaksimal mungkin, jangan nantinya malah memperburuk keadaan. Salah satunya penggunaan celana, ada yang memakai celana outdoor, training, ataupun jeans. Penggunaan celana bagaimana si pemakai merasa nyaman. Namun banyak diantara kita yang menjadi penggiat alam terutama pendaki gunung yang memakai celana jeans saat melakukan pendakian. Katanya sih nyaman dan kekinian. Memang kenyamanan selama pendakian diperlukan, akan tetapi ada baiknya kita tahu akan efek-efek negatif bagi kesehatan bagi mereka yang memakai celana jeans yang dikatakannya nyaman memakainya. Celana jeans seperti saya katakan diatas tadi merupakan kotak pandora. Bila kita cermati tanggapan dari para ahi kesehatan tentang dampak penggunaan atau pemakaian celana jeans, maka dapat disimpulkan beberapa fakta atau efek bagi kesehatan terhadapap penggunaan atau pemakaian celana jeans pada saat melakukan pendakian gunung, adalah:
1.   Saat mendaki gunung, otot panggul, perut, paha, betis, dan kaki kita akan melakukan fase kontraksi dan relaksasi berulang-ulang. Maka itu akan terjadi perubahan diameter paha, betis dan kaki secara berulang-ulang juga. Sehingga anggota gerak tubuh bagian bawah kita membutuhkan space yang cukup. Nah, kalau memakai CELANA JEANS akan MEMBATASI pergerakan dari otot-otot saat berkontraksi, sehingga kemudian memudahkan terkena cedera otot.
2.     Mengenakan jeans ketat saat mendaki gunung cendurung dapat menekan saraf di seluruh paha. Hal ini bisa menyebabkan mati rasa atau sensasi rasa terbakar di daerah paha. Jika diabaikan, hal ini bahkan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada saraf di daerah paha.
3.     Selain cedera, Celana Jeans yang ketat apalagi Celana Jeans Pensil, akan mengganggu sistem peredaran darah dan saraf yang ada di anggota gerak. Hal tersebut akan menyebabkan Compartment Syndrome, dimana sel-sel otak tidak mendapatkan suplai darah yang baik, sehingga dapat terjadi kematian sel, penurunan kerja otot, dan jika dibiarkan dan berulang-ulang dapat terjadi kelumpuhan.
4.     Celana Jeans yang ketat juga membatasi gerak sendi, sehingga saat melangkah, pendaki sangat rawan untuk terkilir akibat berpijak pada tumpuan yang tidak pas, akibat ayunan dan langkah kaki yang tidak bebas.
5.   Celana Jeans bersifat low absorbable material, dimana Jeans sangat lama dalam menyerapi air/keringat, dan sangat lama keringnya. Hal ini berbahaya jika digunakan saat musim hujan,karena dapat meningkatkan resiko hypotermia.
6.     Celana jeans dapat juga mengakibatkan Paresthesia atau biasa disebut dengan istilah Meralgia paresthetica, yaitu gangguan saraf dari tulang belakang menuju paha. Gangguan saraf tersebut dapat menyebabkan kesemutan. Selain itu dapat juga menyebabkan nyeri hingga mati rasa pada paha, pinggul, dan kaki secara keseluruhan.
7.        Selain mendapatkan gangguan saraf bagian bawah tubuh. Celana jeans juga dapat mengakibatkan kandidiasis. Kandidiasis merupakan satu penyakit akibat dari infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur Candida. Ketika Anda merasa kulit Anda seperti terbakar berarti Anda sedang mengalami gejalanya.
Nah, itu adalah beberapa dampak atau efek dalam penggunaan celana jeans saat melakukan pendakian. Ingat “GUNUNG BUKAN MALL, SIMPAN JEANSMU DIRUMAH”. Salam Lestari.

Sumber:

@dokter_petualang
Share:

Selasa, 22 Desember 2015

MAKALAH ARUNG JERAM

PENGARUH ARUS SUNGAI TERHADAP TEKNIK MANUVER SAAT PENGARUNGAN DI SUNGAI CIWULAN TASIKMALAYA  (Study Kasus dari Desa Leuwi Budah Kecamatan Sukaraja – Desa Sukapura Kecamatan Sukaraja)

Oleh,
Ganjar Adipermana
KH. 13. 176. CC

MAHASISWA PECINTA ALAM KHANIWATA
UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2012




BAB I
PENDAHULUAN 
I.   Pendahuluan
Arung jeram dipopulerkan pada awal tahun 1970-an di Amerika Serikat. Arung jeram kemudian mewabah ke seluruh dunia. Di Indonesia sendiri olahraga ini mulai populer setelah diselenggarakannya Lomba Arung Jeram Sungai Citarum I yang diadakan oleh kelompok pendaki gunung dan penempuh rimba Wanadri, Bandung. (Modul. Diklat Arung Jeram “River Rescue”, TT: 9)
Momen itu boleh dikatakan sebagai titik balik dari perkembangan arung jeram di Indonesia. Besarnya potensi di Indonesia yang memiliki banyak sungai yang begitu menawan serta banyaknya keunikan dari berbagai macam bentukan sungai dan arusnya berbeda-beda dari sungai yang satu dengan sungai yang lainnya. Dibalik keunikan tersebut, arus sungai memiliki macam-macam arus yang dapat membahayakan saat pengarungan. banyak para penggiat menganggap arus sungai itu sebagai tantangan tersendiri.
Sungai Ciwulan merupakan salah satu sungai yang terdapat di Indonesia, tepatnya di Kota Tasikmalaya yang memiliki keindahan alam di sepanjang sungai. Sungai Ciwulan cocok untuk pemula dan simulasi atau latihan, karena Sungai Ciwulan termasuk grade II. Ketika pengarungan seorang penggiat harus mengetahui materi maupun teknik dasar pengarungan. Pengarungan dipengaruhi oleh arus sungai dan komponen-komponen sungai dan hal tersebut berkaitan dengan teknik dasar pengarungan yang salah satunya yaitu teknik manuver.
Berdasarkan uraian diatas, maka penyusun tertarik untuk mengkaji dan meneliti secara lebih mendalam tentang arus sungai dan teknik-teknik manuver, dengan mengadakan penelitian dengan judul: “Pengaruh Arus Sungai terhadap Teknik Manuver Saat Pengarungan di Sungai Ciwulan Tasikmalaya (Study Kasus dari Desa Leuwi Budah Kecamatan Sukaraja – Desa Sukapura Kecamatan Sukaraja)”.
Dari uraian latar belakang diatas, maka di identifikasikan permasalahan sebagai berikut :
1.    Bagaimana kemungkinan terburuk saat memasuki arus sungai?
2.    Apa saja teknik-teknik manuver pada arung jeram?
3.    Bagaimana pengaruh arus sungai terhadap teknik manuver pada saat pengarungan?
             Dari hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1.  Penyusun
    Melalui penelitian ini penyusun memperoleh wawasan dan pengetahuan tentang arus sungai dan teknik-teknik manuver pada arung jeram.
2.    Organisasi
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah perbendaharaan pustaka sehingga memberi pengetahuan, wawasan dan informasi bagi anggota dan lebih jauhnya bisa mengadakan penelitian lagi yang lebih mendalam.
3.      Pihak Lain
        Semoga hasil penulisan makalah ini mampu menambah pengetahuan tentang ilmu kepencinta alaman terutama tentang olahraga arus deras atau juga dapat menambah dan memperbaiki kekurangan dari makalah yang telah penyusun buat. 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.  Tinjauan Pustaka
Arus sungai merupakan berbagai macam bentuk dan kecepatan aliran sungai, baik dari permukaan hingga dasar sungai atau arah yang dituju aliran air yang disebabkan perbedaan tinggi atau kemiringan tanah. Biasanya arus tercepat adalah ketika mendekati permukaan. Kecepatan aliran tergantung pada gradient dan ukuran sungai. Dengan volume yang sama, ukuran sungai yang lebih sempit atau gradient yang lebih besar akan mempunyai kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sungai yang memiliki ukuran yang lebih lebar atau gradient yang lebih kecil. (Acep Rahmat Ramdani, 2009:19)
Arus sungai memiliki sifat atau jenis arus dipengaruhi oleh kondisi bentukan yang dilewati oleh aliran air. Adapun jenis-jenis arus sungai yang perlu kita ketahui ada beberapa macam, yaitu:
1.    Arus Utama (Main Stream)
Merupakan arus yang besar jika semua arus dibagi menjadi beberapa aliran dan merupakan bagian yang paling mudah dikenali. Dengan kondisi ini arus utama memiliki kekuatan yang paling besar dan terlihat berupa lidah yang paling besar.
Pada sungai yang lurus, arus utama biasanya terletak di bagian tengah dan pada belokan sungai arus ini berada pada sisi luar sungai yang disebabkan adanya gaya sentrifugal. Dalam pengarungan sungai, arus utama ini biasanya dipilih sebagai jalur utama karena arusnya yang paling cepat dan besar yang akan mempercepat lagi perahu.
2.    Lidah Air (Tongue)
Terbentuk diantara dua buah rintangan berupa batu atau hole dikarenakan percepatan. Bentuknya menyerupai huruf “V” yang mengarah ke hilir akan terbentuk lidah air. Pada umumnya lidah air merupakan lintasan yang terbaik untuk diarungi. 

Gambar 1 Tongue
3.    Gelombang berdiri (Standing Wave)
Gambar 2 Standing Wave
Biasa terdapat pada akhir lidah air. Gelombang berdiri atau standing wave terbentuk karena kemiringan dasar sungai yang cukup besar menyebabkan arus menjadi kuat. Tetapi karena benturan dengan arus lambat yang mengalir datar dibawahnya menyebabkan air menjadi naik membentuk gelombang ke atas secara tetap.
Gelombang ini biasanya berangkai. Diawali dari yang terbesar dan tinggi berangsur-angsur rendah dan datar kenbali. Gelombang berdiri yang mencapai ketinggian 3 meter disebut Haystack. Gelombang yang curam dan terpecah di bagian puncaknya mempunyai daya balik yang tinggi, sedangkan gelombang yang relatif tumpul/datar merupakan jalur yang aman.
4.    Gelombang Balik (Reversal)
Merupakan arus yang berputar dari bawah keatas dan membalik kearah hulu disebabkan penurunan dasar sungai secara ekstrim. Secara umum ada 3 jenis gelombang balik, yaitu:
a.    Hole
Gambar 3 Hole
Terbentuk karena adanya batu yang berada di bawah permukaan air dan menghalangi arus air, mengakibatkan arus menjadi naik dan pada permukaan berikutnya berputar ke belakang dari bawah.
b.    Hydraulic
Arus air yang yang turun secara vertikal menyebabkan arus berputar dari bawah, dan daya putarnya lebih kuat dari yang pertama. Hydraulic yang disebabkan oleh bentukan hasil manusia seperti dam pengontrol banjir dan power generator disebut Weirs. Hydraulic yang berada di bawah dam tersebut biasanya melintang sepanjang sungai. Jika arus turun secara vertikal dengan letak cukup tinggi maka bentukan yang akan terjadi disebut air terjun (Waterfall). 
Gambar 4 Hydraulic
c.    Back Curling
Dasar sungai yang cukup terjal menyebabkan arus menjadi kuat, tetapi dasar sungai berikutnya yang tiba-tiba landai akan menyebabkan arus menjadi tertahan, akibatnya menjadi terbalik membentuk putaran diatasnya. Sekilas back Curling mirip dengan standing wave tetapi gelombang ini mempunyai daya balik yang lebih kuat.

Gambar 5 Back Curling
5.    Pusaran Air (Eddies)
Eddies adalah dimana air berhenti atau mengalir ke hulu (up Stream). Eddies terbentuk karena adanya arus yang menabrak rintangan seperti batu atau benda-benda lain dan tidak dapat melewati rintangan itu akan terjadi kekosongan atau kekurangan air serta perbedaan tekanan air. Oleh sebab itu, maka air dari arah lain akan mengalir ke atas (up stream) untuk  menyamakan permukaan dengan daerah lain, jadi semakin deras arus yang mengalir akan semakin kuat eddies yang ditimbulkan.
Kegunaan Eddies:
a.    Sebagai tempat berhenti (stop)
b.    Sebagai break atau rem/mengurangi kecepatan
c.    membantu membelokan perahu/manuver


Gambar 6 Eddies
Diantara eddies dan arus akan terbentuk garis pembatas yang disebut eddies line atau ada yang menyebutnya eddies fences.
Macam-macam Eddies:
a.    Midstream Eddies
Eddies yang yang terletak di tengah sungai, seperti ada rintangan atau batu di tengah sungai, maka akan terbentuk eddies di tengah sungai di balik batu atau rintangan itu.
b.    Shortline Eddies
Eddies yang terletak di pinggir sungai, seperti adanya tikungan, tonjolan atau cekungan di pinggir sungai.
Selain adanya pembagian macam-macam eddies diatas, ada juga pembagian jenis-jenis eddies berdasarkan deras arus. berikut ini adalah beberapa jenis eddies yang diklasifikasikan berdasarkan kuatnya arus atau derasnya arus:
a.    Powerfull Eddies
Eddies yang timbul akibat halangan yang besar dan arus yang kuat.
b.    Mild Eddies
Eddies yang timbul akibat arus lemah walaupun halangannya besar. Jadi semakin kuat arus yang mengalir maka semakin kuat dan besar eddies yang ditimbulkan.
6.    Belokan Sungai (Bends)
Pada belokan sungai, arus yang cepat dan aliran yang dalam terdapat pada lingkaran luar belokan sungai, hal ini diakibatkan oleh adanya kekuatan sentrifugal, sehingga aliran permukaan yang lebih cepat mengarah dan menumpuk sepanjang tepi belokan sungai bagian luar.

Gambar 7  Bends
7.    Pendangkalan Sungai (Shallows)

Gambar 8 Shallows
Jika penampang sungai melebar akibatnya akan membuat permukaan air menurun. Jika terjadi pendangkalan yang dapat menyulitkan dalam pengarungan, maka yang perlu diingat adalah permukaan air dengan ombak yang besar menunjukkan aliran sungai yang dalam. (http://id.scribd.com/doc/31904862/Materi-Dasar-Rafting)
Pengarungan sungai berjeram memerlukan keterampilan melalui proses latihan dan penambahan jam terbang yang simultan (berkelanjutan). Kemampuan membaca sifat sungai tidak hanya tergantung pada kemampuan intelektual, tapi juga sering melakukan pengarungan itu sendiri. Kemampuan mengendalikan perahu memerlukan suatu pemahaman tentang segala teknik mendayung yang hanya dapat dicapai dengan banyak latihan. (Pebriana Hidayat, 2011:11)
Untuk melatih kemampuan berarung jeram tidak harus langsung pada sungai yang berjeram, tetapi dari sungai yang tenang kemudian berangsur-angsur meningkat pada sungai yang berjeram mudah hingga sulit.
1.    Teknik mendayung
a.    Teknik Mendayung Oar

Gambar 9 Dayung Oar
Posisi duduk pendayung oar berada ditengah perahu yang dilengkapi dengan rangka untuk tempat duduk dan pegangan dayung. Dalam teknik mendayung dengan oar hanya dikenal dua macam kayuhan yaitu dayung maju dan dayung mundur. Jika menginginkan perahu bergerak kedepan maka digunakan dayung maju, sedangkan dayung mundur untuk menghentikan perahu yang sedang bergerak maju atau memang menginginkan perahu bergerak mundur. Jika ingin memnelokkan perahu ke kanan maka tangan kiri mendayung maju dan tangan kanan mendayung mundur, dan sebaliknya jika ingin membelokkan kekiri.
b.    Teknik Mendayung Paddle
Berarung jeram menggunakan teknik paddle merupakan kerja tim, karena setiap awak perahu dituntut mempunyai pengertian dan peran yang sama dalam pengendalian perahu. Sebuah tim yang sudah berpengalaman dapat mengatasi hampir semua tingkatan kesulitan dalam arung jeram, bilamana teknik paddle ini sudah dipahami dan dipelajari.
Cara duduk ada dua, yang pertama posisi duduk seperti menunggan kuda (cowboy Style) yaitu kedua kaki pendayung menjepit lingakaran tabung perahu, dan yang kedua posisi duduk seorang perempuan duduk dibelakang motor atau seorang perempuan yang  sedang dibonceng dimotor (nantahala style) yaitu kedua kaki masuk kebagian dalam perahau.
Gerakan dan arah dayung yang perlu dipahami oleh awak perahu, meliputi:
1)   Dayung maju (forward stroke), tujuan dari dayung maju ini adalah untuk menggerakkan perahu kearah depan (maju). Caranya yaitu dengan cara menancapkan dayung didepan kemudian ditarik kebelakang sampai sejajar dengan pantat. Angkat bilah dayung ulangi ke posisi semula dan seterusnya.

Gambar 10 Dayung Maju

2)   Dayung balik/mundur (back stroke), Tujuan dari dayung mundur ini adalah untuk menggerakkan perahu kebelakang ataupun untuk memperlambat laju perahu. Caranya yaitu kebalikan dari dayung maju yaitu dengan menancapkan bilah jauh dibelakang posisi badan kita kemudian tarik kedepan sampai posisi awal dayung maju. Hal yang perlu diperhatikan dalam mendayung yaitu usahakan jangan hanya menggunkanan kekuatan tangan akan tetapi dibantu dengan otot perut sehingga dayungan yang dihasilkan akan lebih kuat.


Gambar 11 Dayung Mundur
3)   Dayung tarik (draw stroke), dilakukan untuk menggeser perahu mendekati posisi yang diinginkan dengan cara menancapkan dayung jauh ke samping dan menariknya ke arah perahu.
4)   Dayung tolak/menyamping (pry stroke), merupakan kebalikkan dari dayung tarik tetapi tujuannya membantu melengkapi dayung tarik untuk mengendalikan perahu ke posisi yang diinginkan. Juga sering digunakan kapten perahu yang duduk dibelakang perahu untuk membelokkan perahu.
  


Gambar 12 Dayung tarik & Dayung tolak
5)   Dayung pancung (cross-bow draw Stroke), dayungan ini biasa dilakukan oleh para pendayung depan apabila ingin menggeser perahu ke samping. dayungan ini dilakukan oleh pendayung depan dengan melakukan dayung tarik dari depan memotong moncong perahu.

            

                        Gambar 13 Dayung Pancung Kiri & Kanan
6)   C – Stroke, gunanya untuk membelokkan perahu dengan cepat. Caranya dayung digerakkan membentuk huruf ”C” baik dari depan ke belakang maupun dari belakang ke depan dan diikuti dengan gerakan badan. Dayungan ini hanya digunakan oleh skipper.
  

Gambar 14 C – Stroke
7)   J – Stroke, gunanya untuk mempertahankan kemiringan perahu, atau sering dipakai untuk menggerakkan sambil mengemudikan perahu di air yang tidak terlalu deras tanpa bantuan peserta lain.
J – stroke dapat dilakukan dengan cara dayung digerakkan oleh skipper membentuk huruf "J"  dari depan ke belakang, terus dibuang keluar.


Gambar 15 J – Stroke
8)   Scaling, gunanya untuk mempertahankan kemiringan dan arah perahu. Bila memasuki  jeram, karena perahu bisa berubah arah dan kemiringannya apabila perahu tersebut melintasi hole, ombak, atau eddy,  juga sangat efektif untuk mengemudikan perahu tanpa bantuan peserta lain. Dayung ini dapat dilakunan dengan mengkombinasikan beberapa dayungan atau semua dayungan tersebut.

2.    Aba-aba Skipper
Ada beberapa komando yang sering digunaka oleh skipper, yaitu:
a.    Maju yaitu komando yang memerintahkan semua awak harus mendayung maju.
b.    Mundur yaitu komando yang memerintahka semuan awak perahu harus mendayung mundur.
c.    Stop yaitu komando yang memerintahkan semua awak perahu berhenti mendayung.
d.   Kanan maju yaitu komando yang memerintahkan awak perahu yang berada di lambung kanan perahu mendayung maju.
e.    Kiri maju yaitu komando yang memerintahkan awak perahu yang berada di lambung kiri perahu mendayung maju.
f.     Kanan mundur yaitu komando yang memerintahkan awak perahu yang berada di lambung kanan perahu mendayung mendayung.
g.    Kiri mundur yaitu komando yang memerintahkan awak perahu yang berada di lambung kiri perahu mendayung mundur.
h.    Kanan maju kiri mundur untuk memutarkan perahu ke kiri.
i.      Kiri maju kanan mundur untuk memutarkan perahu ke kanan.
j.      Boom yaitu untuk siaga bila ada strainer atau hambatan.
k.    Pancung kanan yaitu untuk membelokan perahu ke kanan. Dayungan ini dilakukan oleh pendayung depan.
l.      Pancung kiri yaitu untuk membelokan perahu ke kiri. Dayungan ini dilakukan oleh pendayung depan.
m.  Draw yaitu untuk menggeser perahu ke kanan atau ke kiri. Dengan cara pry stroke dan draw stroke.
n.    Pindah kiri, yaitu semua awak perahu pindah kebagian kiri perahu.
o.    Pindah kanan, yaitu semua awak perahu pindah ke bagian kanan perahu.
p.    Pindah depan,  yaitu semua awak perahu pindah ke bagian depan.
q.    Pindah belakang, yaitu semua awak perahu pindah ke bagian belakang perahu.
3.    Pengintaian (Scouting)
Melakukan pengintaian terhadap arus-arus sungai yang belum dikenal merupakan suata yang bijaksana, khususnya bagi tingkat pemula. Pengintaian sejumlah deretan arus-arus sungai, meliputi proses pengamatan yang dilakukan pada tepian sungai dari beberapa sudut pandang. Pengintaian berguna untuk menganalisa tingkat kesulitan arus sungai bagi kemampuan awak perahu, mellihat atau mencari jalur yang paling aman dilewati, dan menganalisa kemungkinan terjadi trouble.
Seorang pengintai harus bisa memformulasikan rencana yang akan dilakukan, meliputi jalur yang akan dilalui, jalur cadangn apabila ada trouble, merencanakan teknik atau manuver yang akan dilakukan, dan perlu tidaknya mempersiapkan tim rescue di sisi sungai. Biasanya pengintaian dilakukan seorang skipper.
Pengintaian  dilakukan dengan 2 cara yaitu:
a.    Pengintaian darat, yang dilakukan didarat dimana perahu dihentikan dahulu dan berjalan menyusuri sungai sambil mengamati riam yang akan kita lalui. Biasanya pengintaian ini dilakukan bila riam yang ada didepan tidak kelihatan karena terhalang oleh batu, belokan, atau permukaan sungai yang tiba-tiba hilang.
b.    Pengintaian diatas perahu, yang dilakukan diatas perahu tanpa menghentikan laju perahu terlebih dahulu. Pengintaian ini dilakukan apabila kapten ragu untuk memasuki suatu riam yang akan dilalui. Pengintaian ini biasa disebut Read and Run.
4.    Lining
Jika setelah pengintaian arus sungai disimpulkan tidak ada yang aman untuk dilalui, maka caranya dengan teknik linning yaitu dengan cara menuntun perahu dengan menggunakan tali di tepian sungai yang aman.
5.    Portaging
Jika linning tidak dapat dilakukan lagi untuk menghidari halangan yang ada di depan dan harus mengangkat perahu menyusuri tepian sungai (darat). Teknik ini disebut Portaging.Bila pengarungan dilakukan dengan lebih dari satu perahu, formasi sebaiknya dilakukan dengan menempatkan orang-orang yang perpengalaman di depan dan di belakang, mengapit peserta yang kurang berpengalaman. Dengan formasi ini perahu leader tidak pernah dilewati, dan perahu penyapu tidak akan mendahului. Gerak maju dibuat bertahap, leader terlebih dahulu dan seterusnya hingga perahu penyapu di belakang, sehingga masing-masing perahu beriringan satu-satu ke belakang.

BAB III


III.  Selayang Pandang Kota Tasikmalaya
      Kabupaten Tasikmalaya  berasal  dari kata Tasik yang berarti keusik (pasir) dan Malaya yang berari ngalayah (menghampar/banyak). Letak wilayah Daerah Tingkat II Tasikmalaya dalam kontek regional berada di sebelah Tenggara wilayah provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat termasuk ke wilayah Priangan Timur. Daerah perbatasannya oleh tiga wilayah administrasi, diantaranya sebelah utara dibatasi oleh Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Ciamis, sebelah Barat dibatasi oleh Kabupaten Garut, sebelah Timur dibatasi Kabupaten Ciamis dan satu bentang alam Samudera Indonesia disebelah selatannya. Luas keseluruhan sebesar 2.563,35 Km2. Sebagaian besar wilayahnya berada pada ketinggian antara 0 – 1.500 mdpl yang membentang dari arah utara dan yang terendah kearah selatan. Secara geografis kota Tasikmalaya memiliki posisi yang strategis, yaitu berada pada 108o 08' 38"-108o 24' 02" BT dan 7o 10'-7o 26' 32" LS di bagian Tenggara wilayah Propinsi Jawa Barat.
     Sungai Ciwulan merupakan sungai terbesar yang membelah Kabupaten Tasikmalaya di bagian tengah. Disekitar Sungai Ciwulan mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai pengusaha border dan bertani. Sungai Ciwulan juga merupakan tempat dimana pernah diselenggarakan pelatihan Arung Jeram se-Tasikmalaya yang diselenggarakan Faji Kota Tasikmalaya.
     Untuk menuju lokasi sungai ciwulan dapat dilewati dengan menggunakan kendaraan baik roda dua maupun roda empat dengan mudah, dikarenakan jalan yang sudah diaspal.  Jarak tempuh dari start (Desa Leuwi Budah Kecamatan Sukaraja) sampai Finish ( jembatan Desa sukapura Kecamatan Sukaraja) ± 20km atau sama dengan ± 20.000 m. Secara geografis wilayah Sungai Ciwulan berada pada posisi posisi 107 30’ – 108 52’ BT dan 07 21’ – 07 52’ LS. 
     Batas wilayah Sungai Ciwulan, yaitu:
a.    Sebelah utara                  : WS. Citarum dan WS Cimanuk - Cisanggarung
b.    Sebelah timur                : WS. Citanduy
c.    Sebelah selatan             : Samudera Indonesia
d.   Sebelah barat                 : WS. Cisadea – Cibareno.
     Topografi wilayah Sungai Ciwulan sangat bervariasi mulai dari pesisir sampai pegunungan. Sungai Ciwulan berhulu sungai dari Gunung Kracak, Galunggung, Bungbulang/ dan Balitiganar. Aliran air Sungai Ciwulan rata-rata berkisar 2,37 sampai 26,5 m³/detik, debit maksimum Aliran air Sungai Ciwulan 136,67 m³/detik dan debit minimumnya 0,8 m³/detik.
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Kemungkinan Terburuk Ketika Memasuki Arus Sungai
Arus sungai memiliki macam-macam arus yang dapat menghambat bahkan sampai membahayakan saat pengarungan. Berikut berbagai kemungkinan terburuk yang dapat dialami oleh penggiat olahraga arung jeram ketika memasuki jenis arus sungai :
1.    Reversal
Disebabkan oleh batu yang berada di bawah permukaan air dan menghambat aliran air, mengakibatkan permukaan berikutnya berputar ke belakang dari bawah. Reversal kecil ini, dapat sementara menghentikan perahu untuk berhenti, tetapi reversal besar dapat membuat perahu terbalik dan dapat menjatuhkan awak perahu, apabila awak perahu tidak menguasai teknik berenang di arus sungai, maka awak perahu tersebut bisa tergulung oleh arus sungai ini dan bisa mengakibatkan kematian.
2.    Standing Wave
Kemiringan dasar sungai yang cukup besar menyebabkan arus menjadi kuat. Tetapi karena benturan dengan arus lambat yang mengalir datar dibawahnya menyebabkan air menjadi naik membentuk gelombang ke atas secara tetap. Standing wave yang mencapai ketinggian 3 meter disebut Haystack. Haystack dapat membuat perahu akan terbalik dan dapat menjatuhkan awak perahu dari perahu.
3.    Bends atau Belokan Sungai
Ketika memasuki jenis arus sungai ini para penggiat harus lebih hati-hati, karena kalau tidak bisa menggendalikan perahu bisa terbentur pada dinding sungai yang bisa mengakibatkan perahu terbalik dan jika awak perahu tidak dalam posisi siap, maka awak perahu akan jatuh. Apabila terdapat strainer yang ada di pinggiran dinding sungai, maka dapat mengakibatkan luka pada pendayung atau membuat kerusakan pada perahu. Biasanya diarus ini terdapat undercut, apabila masuk ke undercut perahu akan terjebak disana dan jika awak perahu terjatuh, maka kemungkinan awak perahu yang selamat hanya 1%.
4.    Shallow
Di jenis arus ini para pendayung bisa aman dan tidak akan jatuh dari perahu, tapi pada jenis arus sungai ini bisa mengakibatkan perahu wrap atau terjebak diantara bebatuan, sehingga menghambat terhadap pengarungan.
5.    Eddies
Eddies adalah dimana air berhenti atau mengalir ke hulu (up Stream). Eddies terbentuk karena adanya arus yang menabrak rintangan seperti batu atau benda-benda lain dan tidak dapat melewati rintangan itu akan terjadi kekosongan atau kekurangan air serta perbedaan tekanan air. Apabila pusarannya besar, maka kemungkinan terburuk adalah awak perahu akan terpental jatuh keluar dari perahu jika awak perahu tersebut tidak siap.

B.  Teknik–Teknik Manuver Arung Jeram 

Gambar 17 Manuver
Manuver digunakan apabila perahu akan melewati suatu kelokan sungai atau menghindari rintangan atau hambatan. Adapun teknik-teknik manuver yang perlu kita ketahui, yaitu:
1.    Teknik ferry angles adalah sudut atau kemiringan yang dibentuk oleh perahu terhadap pinggir sungai.  Ferry angles berguna untuk mngimbangi arus air dengan tenaga gerak perahu dalam mencadapai tempat yang dituju. Adapun cara untuk melakukan teknik ferry tergantung pada teknik yang digunakan disamping kondisi hambatan yang akan dilalui. Dalam melakukan ferry angles dikenal ada dua macam teknik, yaitu :
a.    Up stream ferry adalah gerakan perahu menuju ke hulu sungai dengan mempertahankan sudut kemiringan perahu.
b.     Down stream ferry adalah gerakan perahu menuju ke hilir sungai.
Dalam melakukan teknik up stream ferry dan down stream ferry dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a.    Back ferry pada up stream ferry dilakukan dengan cara haluan perahu menghadap ke arah hilir. Dari posisi ini mulailah mendayung mundur, kemudian ferry dilakukan dengan memutar haluan 30o – 45o ke salah satu sisi. Sedangkan pada down stream ferry dilakukan dengan cara haluan perahu menghadap ke arah hulu. Dari posisi ini mulailah dayung mundur, kemudian ferry dilakukan dengan memutar haluan 30o – 45o ke salah satu sisi.
b.    Forward ferry pada up stream ferry dilakukan dengan cara haluan perahu ke arah hulu. Dari posisi ini mulailah mendayung maju, kemudian ferry dilakukan dengan memutar haluan 30o – 45o ke salah satu sisi. Sedangkan pada down stream ferry dilakukan dengan cara haluan perahu ke arah hilir. Dari posisi ini mulailah mendayung maju, kemudian ferry dilakukan dengan memutar haluan 30o – 45o ke salah satu sisi. 

Gambar 18 Ferry Angles
2.    Membelok (turn), cara membelokkan perahu. Untuk berbelok dilakukan dengan cara menguatkan dayungan disalah satu sisi perahu, bila ingin berbelok ke sisi berlawanan atau dengan memperlambat laju perahu pada sisi yang akan dituju.
3.    Berputar (pivot), cara memutarkan perahu dengan melakukan c-stroke dan memberikan aba-aba kanan maju kiri mundur atau kiri maju kanan mundur. Teknik ini biasa digunakan untuk mengeluarkan perahu dari eddies. 
Gambar  19 Pivot

C.  Pengaruh Arus Sungai Terhadap Teknik Manuver Pada Saat Pengarungan
Ketika pengarungan seorang penggiat harus mengetahui materi maupun teknik dasar pengarungan. Pengarungan dipengaruhi oleh arus sungai dan komponen-komponen sungai dan hal tersebut berkaitan dengan teknik dasar pengarungan yang salah satunya yaitu teknik manuver. Agar kita dapat melakukan pengarungan dengan aman, maka teknik-teknik manuver yang digunakan ketika memasuki jenis arus di sungai, yaitu:
1.    Reversal
Dilakukan dengan cara skipper melakukan pengintaian jalur yang aman, bila jalur yang aman di sebelah kiri sedangkan kita ada di sebelah kanan gunakan c-stroke sambil perintahkan dayung maju, panjang, atau kuat. Dan bila memasuki arus sungai ini, usahakan perahu tetap lurus dengan cara menggunakan scaling dan perintahkan dayung kuat.
2.    Standing wave



Gambar 20 Manuver di Standing Wave
Bila masuk standing wave usahakan perahu tetap berada di standing wave. Bila posisi perahu 30o – 45o ke kiri atau ke kanan gunakan c-stroke dan j-stroke untuk mempertahankan posisi perahu mengikuti arus tersebut agar tetap lurus.
3.    Bends
  

Gambar 21 Manuver di Bends
Bends merupakan arus yang membelok, ketika perahu memasuki bends dilakukan dengan cara  membelokkan perahu atau haluan 30o – 45o ke kiri maupun ke kanan dengan melakukan c-stroke tergantung arah bends tersebut dengan perahu tetap berada di arus utama, setelah itu perintahkan dayung kuat kepada para pendayung. Apabila skipper tidak kuat untuk membelokkan perahu perintahkan pendayung depan dengan aba-aba pancung kiri atau kanan.
4.    Shallows
Ketika menemukan shallows arahkan perahu ke arah arus utama karena biasanya menunjukkan aliran sungai yang dalam dan pertahankan perahu berada di arus utama. Jika terlanjur memasuki shallows dan terjebak atau wrap usahakan perahu keluar dari shallows menuju arus utama dengan memberi aba-aba pindah kiri atau pindah kanan kepada awak perahu atau dengan menggunakan teknik dayungan apapun sesuai dengan kondisi yang ada. Apabila tetap tidak bisa keluar dari shallows gunakan teknik linning.
5.    Eddies
Gambar 22 Manuver di Eddies
Untuk keluar dari eddies ada beberapa cara, diantaranya dengan cara melakukan pivot atau memutarkan perahu ketika perahu berada pada arus utama dan mengikuti pusaran, lalu ketika mendekati  arus utama kendalikan perahu oleh skipper ke arah mainstream dengan melakukan c-stroke dan perintahkan komando dayung maju atau dayung panjang dan melakukan ferrying dengan posisi perahu 30o – 45o  ke arah mainstream.


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A.  Simpulan
Arus sungai memiliki macam-macam arus yang dapat menghambat bahkan membahayakan saat pengarungan. Dari beberapa jenis arus sungai yaitu reversal, standing wave, bends, shallows, dan eddies kemungkinan terburuknya adalah perahu terbalik, terjebak atau wrap, dan terjatuhnya awak perahu hingga bisa menyebabkan kematian.
Bagi seorang pemula yang akan berarung jeram dan ingin mendapatkan tantangan jangan gegabah untuk melakukan pengarungan sebelum kita mengetahui dan menguasai teknik-teknik dasar dalam pengarungan, salah satu teknik manuver. Dalam teknik manuver ini kita dapat mengendalikan perahu saat akan melewati macam-macam arus sungai. Dengan menguasainya teknik manuver kita bisa meminimalisir kecelakaan saat pengarungan. Adapun teknik-teknik manuver yang perlu di pelajari adalah ferry angles, turn (membelok) dan pivot (berputar).
Dari hasil penelitian ini penyusun dapat menyimpulkan bahwa sebelum pengarungan alangkah baiknya bisa menguasai teknik manuver dalam pengarungan, seperti saat membelokkan perahu, mendayung ketika menghadapi jenis-jenis arus sungai. Setiap melakukan teknik manuver saat memasuki jenis arus sungai selalu berbeda dalam melakukan teknik manuver, karena di setiap arus sungai pasti kondisi atau hambatannya berbeda-beda. Maka dari itu, sebelum  memasuki jenis-jenis arus, sebaiknya melakukan pengintaian atau scouting agar tahu jalur mana yang aman untuk dilalui.
B.  Saran
Dari hasil penelitian yang dilakukan, penyusun memberikan beberapa saran diantaranya :
1.        Disetiap kegiatan yang berhubungan dengan alam, dalam perencanaannya kita harus mempersiapkan fisik, mental, pengetahuan, dan materi.
2.        Sebelum pengarungan kita harus melakukan simulasi terlebih dahulu.
3.        Ketika dilapangan kita harus berkomunikasi dengan tim yang ada didarat.
4.        Sebelum melakukan pengarungan, terlebih dahulu kita harus mengetahui karakteristik sungai yang akan kita arungi.
5.        Sebelum pengarungan kita harus bertanya kepada para rafter yang sudah mengarungi sungai tersebut.
6.        Sebelum pengarungan kita harus mengetahui teknik dasar pengarungan dan teknik dasar manuver.
7.        Dalam melakukan pengarungan minimalnya kita harus mengetahui cara menyelamatkan diri (self rescue).
8.        Dalam pengintaian atau scouting sebaiknya harus lebih teliti karena karakteristik sungai itu bisa berubah tanpa kita sadari.
9.        Jangan lupa membawa perbekalan secukupnya.
10.     Jangan lupa sebelum melakukan kegiatan kita harus berdoa.
11.     Jagalah kekompakan.


DAFTAR PUSTAKA

A.  Buku
.Modul Diklat Arung Jeram River Rescue.
Burhani, Pupung. (2009). Kategori dan Penilaian Kelas yang Dipertandingkan dalam Kejuaraan Arung Jeram. Makalah: MPA KHANIWATA Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Tidak dipublikasikan
Hidayat, Pebriana. (2011). Pengaruh Jeram Terhadap Teknik Pengarungan di Sungai Citanduy Kota Tasikmalaya. Makalah: MPA KHANIWATA Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Tidak dipublikasikan.
MPA KHANIWATA. (2009). Olahraga Arus Deras. Tasikmalaya: MPA KHANIWATA Universitas Siliwangi Tasikmalaya.
Nurdiansyah, Cecep Reza. (2010). Pengaruh Klasifikasi Grade Pada Arung jeram. Makalah: MPA KHANIWATA Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Tidak dipublikasikan.
Ramdani, Acep Rahmat. (2009). Pengaruh Pemahaman Teori Safety Prosedur Arung Jeram Terhadap Pengarungan di Sungai Citarum Rajamandala Kabupaten Bandung. Makalah: MPA KHANIWATA Universitas siliwangi Tasikmalaya. Tidak dipublikasikan.

B.  Internet





Share: