Rabu, 01 Maret 2017

5 Kesalahan yang Dilakukan Pendaki Baru

Mendaki gunung sekarang menjadi trend masa kini dari orang tua sampai anak kecil berlomba menuju puncak gunung. Dari organisasi hingga komunitas yang berlatar belakang pecinta alam sudah bertebar di setiap kota hingga ke jenjang pendidikan. Minat manusia terhadap salah satu olahraga ekstrim ini semakin merebak. Sekarang mendaki gunung ibarat bermain dibelakang halaman rumah. Ingat, kematian adalah bayarannya!
Film-film layar lebar dengan bertema mendaki gunung menjadi salah satu virus bagi umat manusia. Banyak orang berbondong-bondong untuk mendaki gunung dengan materi bisa dibilang NOL. Kebanyakan para pendaki baru yang bisa dibilang minim pengetahuan ditemukan tewas didasar jurang, tersesat, dll.
Agar meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan, ada baiknya kita mengetahui kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan para pendaki baru, Yaitu:

1.    Jadi Sok Jagoan
Ada kalanya para pendaki baru ini begitu haus akan tantangan. Karena hal itu tak sedikit dari mereka yang dengan percaya diri naik gunung lewat jalur tidak resmi. Mereka dengan berani mencoba jalur pendakian baru yang belum pernah dilewati atas nama haus akan petualangan”. Namun parahnya, para pendaki pemula melewati jalur baru ini tanpa kemampuan navigasi yang baik. Tidak bisa membaca arah mata angin dan tidak bias membaca peta topografi atau kompas adalah masalah pendaki pemula. Lantas mau mengandalkan GPS HP di puncak gunung? Tak ada sinyal bung! Belum lagi jika dipikir lebih jauh, mencari jalur baru bias saja merusak ekosistem kehidupan liar. Hasilnya, mereka para pendaki pemula ini akan tersesat, bertemu dengan hewan liar dan akhirnya ditandu tim SAR kerumah sakit. Kemungkinan lebih buruknya? Ditemukan mati kedinginan di bawah jurang.

2.    Bekal Makan Tak Diatur
Bekal makanan adalah hal penting saat mendaki gunung. Dari para pendaki pemula atau yang sok-sokan ingin disebut pendaki, biasanya berpikir kalau mendaki identik dengan mie instan sehingga bekal yang dibawa kebanyakan mie instan. Padahal untuk mendaki gunung, dibutuhkan tenaga besar dengan kalori rata-rata dua kali kegiatanmu sehari-hari. Para pendaki pemula biasanya memasak makanan tidak sempurna seperti nasi tidak matang dan masih keras. Belum lagi mie instan yang sulit dicerna tubuh menambah buruk kondisi mereka. Untuk itu, saat mendaki gunung ada baiknya kamu memperbanyak daging-dagingan berlemak atau setidaknya cokelat. Satu batang cokelat bias membuatmu bertahan hidup di gunung lho

3.    Packing Peralatan Yang Kacau.
Salah satu hal yang kerap dipandang remeh para pendaki pemula adalah urusan packing atau mengepak dan menata barang di ransel (carrier). Padahal seluruh barang bawaan saat mendaki gunung itu harus masuk ke dalam carrier dan tak ada yang boleh tergantung di luar ransel selain botol air minum. Kedua tanganmu harus dalam kondisi bebas untuk memegang tongkat atau akar-akar pohon. Hanya saja pendaki pemula kerap menggantungkan barang mereka ke ransel dengan tangan membawa sleeping bag dan tenda karena packing seenakudel. Belum lagi carrier pendaki pemula kerap tidak dilindungi oleh cover bag. Padahal udara gunung yang dingin bias menimbulkan embun yang membasahi ransel. Bisa dibayangkan dong saat kamu mau ganti baju di malam hari, eh semua baju di dalam tas sudah basah? Nekat tidur dalam kondisi basah? Selamatdatang di Hipotermia, penyebab utama kematian pendaki gunung.

4.    Ingin Menjadi Yang Tercepat.
Satu lagi cirri khas pendaki pemula adalah mereka ingin segera cepat sampai ke puncak. Apa tujuannya? Biar disangka hebat dan bisa selfie di puncak dengan segera. Padahal bisa-bisa karena pengen sok cepat, tak sadar ototnya cedera. Para pendaki pemula merasa haram hukumnya ada di belakang sendiri karena akan dianggap lemah. Padahal tahukah kamu? Dalam sebuah grup pendakian ideal, ada sosok terkuat dan paling bisa diandalkan yang berjalan paling belakang. bernama Sweeper. Sosok itu adalah yang paling bertanggungjawab karena memastikan tak ada anggota yang tertinggal di belakang. Untuk itulah kerjasama tim diperlukan dalam pendakian. Mendaki gunung dalam rombongan harus saling pengertian, mereka yang merasa lelah jangan malu mengakui dan mereka yang masih kuat harus mendampingi rekannya yang mulai lelah dan ikut istirahat. Jangan sampai kamu Cuma mengejar ingin cepat sampai di gunung, akhirnya melupakan temanmu di belakang sehingga dia tewas kelelahan.

5.    Gunung Bukan Untuk Ditaklukan
Mereka yang disebut pendaki pemula biasanya naik gunung dengan tujuan ingin punya foto saat di puncak supaya bisa pamer di sosial media. Rasa bangga dan level keren meningkat saat bisa menaklukkan gunung. Tunggu, gunung bisa ditaklukkan? Kamu salah bung! Tak ada satu pun manusia yang bisa menaklukkan gunung.

Jadi, mulai sekarang kamu para pendaki harus mengingat baik-baik, tujuan naik gunung adalah untuk menghargai ciptaan Tuhan Semesta Alam. Ada yang bilang, sifat asli manusia akan terungkap saat dia naik gunung. Ya, hakikat naik gunung itu sama seperti kehidupan. Akan ada jalanan yang terjal, rintangan, mendaki atau menuruni tanah yang curam. Kamu akan merasa menyerah dan kakimu mati rasa. Namun di hatimu, tujuan untuk bisa berada di tempat yang lebih tinggi demi mengagumi alam semesta inilah yang membuat kakimu melangkah lebih jauh. Salam lestari, cintailah gunung dan hormatilah gunung selama kamu mendaki di sana. JANGAN LUPA FOLLOW !!!

Share:

Minggu, 26 Februari 2017

Dampak Penggunaan Celana Jeans Saat Mendaki Gunung

Celana jeans merupakan  pakaian yang tak pernah luntur walau tergerus jaman. Banyak model-model atau bisa disebut modifikasi celana jeans dari tahun ke tahun. Celana jeans ketat adalah salah satu trend yang populer masa kini, terutama anak muda. Celana jeans juga memberi perasaan serta penampilan  elegan dan megah bagi pemakainya. Namun penggunaan celana jeans itu ibarat kotak pandora, kelihatan elegan tetapi didalamnya merusak. Untuk informasi pemakaian celana jeans, mari kita mempelajari dari  tanggapan para ahli dibidangnya masing-masing mengenai pemakaian atau penggunaan celana jeans, yaitu:
1.        Menurut ahli bedah
Menurut Karen Boyle, seorang ahli bedah di Greater Baltimore Medical Center (USA),  jeans ketat bisa memicu meralgia paresthetica, yaitu suatu kondisi yang meremas saraf yang melewati daerah luar paha, dan yang menyebabkan mati rasa, terbakar, dan sensasi kesemutan. Jeans ketat diyakini dapat menimbulkan tekanan konstan pada saraf, yang dapat menyebabkan apa yang dikenal dengan sindrom kesemutan paha. Celana jeans terlalu ketat, yang umumnya lebih sering dipakai oleh wanita, akan meningkatkan risiko meralgia paresthetica. Orang yang memakai skinny jeans ultra ketat cenderung mengalami perasaan geli yang tidak biasa,  yang dirasakan naik dan turun sepanjang paha. Semua ini adalah gejala kerusakan saraf. Penekanan syaraf yang berulang dapat menyebabkan kerusakan permanen.
2.        Menurut ahli terapi fisik
Ahli terapi fisik berpendapat bahwa saraf kutaneus lateral pada paha berperan penting untuk memberikan sensasi ke bagian  atas dan bawah kaki. Oleh karena itu, membungkus kaki dengan jeans ketat bisa menjepit saraf kutan lateral, yang akan memberikan kaki atas dan bawah mengalami sensasi mengambang sambil berjalan. Hal ini akan memberikan perasaan kaki seperti tidak ada pada tubuh. Selain sensasi yang  aneh ini, orang tersebut bisa mengalami kelemahan di bagian paha.
3.        Menurut Neurolog
Neurolog juga menegaskan bahwa penggunaan jeans ketat akan membuat tekanan berlebihan pada saraf kutan lateral, yang menyebabkan sindrom kesemutan paha. Selain menyebabkan perasaan geli pada paha, mengenakan jeans ketat juga diyakini dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada perut, pembekuan darah, mulas, dan nyeri punggung bagian bawah. Pemakai jeans ketat yang mengeluhkan paha seperti mati rasa merupakan indikasi jika sirkulasi darah pada paha tidak memadai. Jika Anda mengabaikan ketidaknyamanan ini, mungkin pada akhirnya akan memicu kerusakan syaraf peranen.

Bagi pendaki gunung dengan seringnya berjalan hampir berjam-jam harus memikirkan perencanan pendakian semaksimal mungkin, jangan nantinya malah memperburuk keadaan. Salah satunya penggunaan celana, ada yang memakai celana outdoor, training, ataupun jeans. Penggunaan celana bagaimana si pemakai merasa nyaman. Namun banyak diantara kita yang menjadi penggiat alam terutama pendaki gunung yang memakai celana jeans saat melakukan pendakian. Katanya sih nyaman dan kekinian. Memang kenyamanan selama pendakian diperlukan, akan tetapi ada baiknya kita tahu akan efek-efek negatif bagi kesehatan bagi mereka yang memakai celana jeans yang dikatakannya nyaman memakainya. Celana jeans seperti saya katakan diatas tadi merupakan kotak pandora. Bila kita cermati tanggapan dari para ahi kesehatan tentang dampak penggunaan atau pemakaian celana jeans, maka dapat disimpulkan beberapa fakta atau efek bagi kesehatan terhadapap penggunaan atau pemakaian celana jeans pada saat melakukan pendakian gunung, adalah:
1.   Saat mendaki gunung, otot panggul, perut, paha, betis, dan kaki kita akan melakukan fase kontraksi dan relaksasi berulang-ulang. Maka itu akan terjadi perubahan diameter paha, betis dan kaki secara berulang-ulang juga. Sehingga anggota gerak tubuh bagian bawah kita membutuhkan space yang cukup. Nah, kalau memakai CELANA JEANS akan MEMBATASI pergerakan dari otot-otot saat berkontraksi, sehingga kemudian memudahkan terkena cedera otot.
2.     Mengenakan jeans ketat saat mendaki gunung cendurung dapat menekan saraf di seluruh paha. Hal ini bisa menyebabkan mati rasa atau sensasi rasa terbakar di daerah paha. Jika diabaikan, hal ini bahkan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada saraf di daerah paha.
3.     Selain cedera, Celana Jeans yang ketat apalagi Celana Jeans Pensil, akan mengganggu sistem peredaran darah dan saraf yang ada di anggota gerak. Hal tersebut akan menyebabkan Compartment Syndrome, dimana sel-sel otak tidak mendapatkan suplai darah yang baik, sehingga dapat terjadi kematian sel, penurunan kerja otot, dan jika dibiarkan dan berulang-ulang dapat terjadi kelumpuhan.
4.     Celana Jeans yang ketat juga membatasi gerak sendi, sehingga saat melangkah, pendaki sangat rawan untuk terkilir akibat berpijak pada tumpuan yang tidak pas, akibat ayunan dan langkah kaki yang tidak bebas.
5.   Celana Jeans bersifat low absorbable material, dimana Jeans sangat lama dalam menyerapi air/keringat, dan sangat lama keringnya. Hal ini berbahaya jika digunakan saat musim hujan,karena dapat meningkatkan resiko hypotermia.
6.     Celana jeans dapat juga mengakibatkan Paresthesia atau biasa disebut dengan istilah Meralgia paresthetica, yaitu gangguan saraf dari tulang belakang menuju paha. Gangguan saraf tersebut dapat menyebabkan kesemutan. Selain itu dapat juga menyebabkan nyeri hingga mati rasa pada paha, pinggul, dan kaki secara keseluruhan.
7.        Selain mendapatkan gangguan saraf bagian bawah tubuh. Celana jeans juga dapat mengakibatkan kandidiasis. Kandidiasis merupakan satu penyakit akibat dari infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur Candida. Ketika Anda merasa kulit Anda seperti terbakar berarti Anda sedang mengalami gejalanya.
Nah, itu adalah beberapa dampak atau efek dalam penggunaan celana jeans saat melakukan pendakian. Ingat “GUNUNG BUKAN MALL, SIMPAN JEANSMU DIRUMAH”. Salam Lestari.

Sumber:

@dokter_petualang
Share: