PENGARUH
ARUS SUNGAI TERHADAP TEKNIK MANUVER SAAT PENGARUNGAN DI SUNGAI CIWULAN
TASIKMALAYA (Study Kasus dari Desa Leuwi Budah Kecamatan Sukaraja – Desa Sukapura Kecamatan Sukaraja)
Oleh,
Ganjar
Adipermana
KH. 13. 176. CC
MAHASISWA
PECINTA ALAM KHANIWATA
UNIVERSITAS
SILIWANGI
TASIKMALAYA
2012
BAB
I
PENDAHULUAN
I. Pendahuluan
Arung jeram dipopulerkan pada awal tahun 1970-an di Amerika
Serikat. Arung jeram kemudian mewabah ke
seluruh dunia. Di Indonesia sendiri olahraga ini mulai populer setelah
diselenggarakannya Lomba Arung Jeram Sungai Citarum I yang diadakan oleh
kelompok pendaki gunung dan penempuh rimba Wanadri, Bandung. (Modul. Diklat Arung Jeram “River Rescue”, TT: 9)
Momen itu boleh dikatakan sebagai titik balik dari perkembangan arung jeram di Indonesia. Besarnya
potensi di
Indonesia yang memiliki banyak sungai yang begitu menawan serta banyaknya
keunikan dari berbagai macam bentukan sungai dan arusnya berbeda-beda dari sungai yang satu dengan sungai yang lainnya.
Dibalik keunikan tersebut, arus sungai memiliki macam-macam arus yang dapat
membahayakan saat pengarungan. banyak para penggiat menganggap arus sungai itu
sebagai tantangan tersendiri.
Sungai Ciwulan merupakan salah satu sungai yang terdapat di
Indonesia, tepatnya di Kota Tasikmalaya yang memiliki keindahan alam di
sepanjang sungai. Sungai Ciwulan cocok untuk pemula dan simulasi atau
latihan,
karena Sungai Ciwulan termasuk grade II. Ketika pengarungan seorang penggiat harus mengetahui
materi maupun teknik dasar pengarungan. Pengarungan dipengaruhi oleh arus
sungai dan komponen-komponen sungai dan hal tersebut berkaitan dengan teknik
dasar pengarungan yang salah satunya yaitu teknik manuver.
Berdasarkan uraian diatas, maka penyusun tertarik untuk mengkaji dan
meneliti secara lebih mendalam tentang arus sungai dan teknik-teknik manuver, dengan
mengadakan penelitian dengan judul: “Pengaruh
Arus Sungai terhadap Teknik Manuver Saat Pengarungan di Sungai Ciwulan
Tasikmalaya (Study Kasus dari
Desa Leuwi Budah Kecamatan Sukaraja – Desa Sukapura Kecamatan Sukaraja)”.
Dari uraian
latar belakang diatas, maka di
identifikasikan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana kemungkinan terburuk saat memasuki arus sungai?
2. Apa
saja teknik-teknik manuver pada arung jeram?
3. Bagaimana pengaruh arus sungai
terhadap teknik manuver pada saat pengarungan?
Dari hasil penelitian
yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Penyusun
Melalui penelitian ini penyusun memperoleh wawasan
dan pengetahuan tentang arus sungai dan teknik-teknik manuver pada arung jeram.
2. Organisasi
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat
menambah perbendaharaan pustaka sehingga memberi pengetahuan, wawasan dan informasi
bagi anggota dan lebih jauhnya bisa mengadakan penelitian lagi yang lebih mendalam.
3. Pihak
Lain
Semoga hasil penulisan makalah ini mampu
menambah pengetahuan tentang ilmu kepencinta alaman terutama tentang
olahraga arus deras atau juga dapat menambah dan memperbaiki kekurangan dari makalah
yang telah penyusun
buat.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
II. Tinjauan Pustaka
Arus sungai merupakan berbagai macam bentuk dan kecepatan aliran sungai, baik
dari permukaan hingga dasar sungai atau arah yang dituju aliran air yang
disebabkan perbedaan tinggi atau kemiringan tanah. Biasanya arus tercepat adalah ketika
mendekati permukaan. Kecepatan aliran tergantung pada gradient dan ukuran sungai. Dengan volume yang sama, ukuran
sungai yang lebih sempit atau gradient yang lebih besar akan mempunyai
kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sungai yang memiliki ukuran yang lebih lebar atau gradient yang lebih kecil. (Acep Rahmat Ramdani, 2009:19)
Arus sungai
memiliki sifat
atau jenis arus dipengaruhi oleh kondisi bentukan yang dilewati oleh aliran air. Adapun jenis-jenis arus sungai yang perlu kita ketahui
ada beberapa macam, yaitu:
1.
Arus Utama (Main Stream)
Merupakan arus
yang besar jika semua arus dibagi menjadi beberapa aliran dan merupakan bagian yang paling mudah dikenali. Dengan kondisi ini
arus utama memiliki kekuatan yang paling besar dan terlihat berupa lidah yang
paling besar.
Pada sungai yang lurus, arus utama biasanya terletak di
bagian tengah dan pada belokan sungai arus ini berada pada sisi luar sungai yang
disebabkan adanya gaya sentrifugal. Dalam pengarungan
sungai, arus utama ini biasanya dipilih sebagai jalur utama karena arusnya yang
paling cepat dan besar yang akan mempercepat lagi perahu.
2.
Lidah Air (Tongue)
Terbentuk diantara dua buah rintangan berupa batu atau
hole dikarenakan percepatan.
Bentuknya menyerupai huruf “V” yang mengarah ke hilir akan terbentuk lidah air. Pada umumnya lidah air merupakan lintasan yang terbaik
untuk diarungi.
Gambar 1 Tongue
3.
Gelombang berdiri (Standing Wave)
Gambar
2 Standing Wave
Biasa terdapat pada akhir lidah air.
Gelombang berdiri atau standing wave terbentuk karena kemiringan dasar sungai yang cukup besar
menyebabkan arus menjadi kuat. Tetapi karena benturan dengan arus lambat yang
mengalir datar dibawahnya menyebabkan air menjadi naik membentuk gelombang ke
atas secara tetap.
Gelombang ini biasanya berangkai. Diawali dari yang terbesar dan tinggi
berangsur-angsur rendah dan datar kenbali. Gelombang berdiri yang mencapai
ketinggian 3 meter disebut Haystack.
Gelombang yang curam dan terpecah di bagian puncaknya mempunyai daya balik yang
tinggi, sedangkan gelombang yang relatif tumpul/datar merupakan jalur yang
aman.
4.
Gelombang Balik (Reversal)
Merupakan arus yang berputar dari bawah keatas
dan membalik kearah hulu disebabkan penurunan dasar sungai secara ekstrim. Secara umum ada 3 jenis gelombang balik, yaitu:
a.
Hole
Gambar 3 Hole
Terbentuk karena adanya
batu yang berada di bawah permukaan air dan menghalangi arus air, mengakibatkan
arus menjadi naik dan pada permukaan berikutnya berputar ke belakang dari
bawah.
b.
Hydraulic
Arus air yang yang turun secara vertikal menyebabkan arus berputar dari
bawah, dan daya putarnya lebih kuat dari yang pertama. Hydraulic yang disebabkan oleh bentukan hasil manusia seperti dam
pengontrol banjir dan power generator disebut Weirs. Hydraulic yang
berada di bawah dam tersebut biasanya melintang sepanjang sungai. Jika arus
turun secara vertikal dengan letak
cukup tinggi maka bentukan yang akan terjadi disebut air terjun (Waterfall).
Gambar
4 Hydraulic
c.
Back Curling
Dasar sungai yang cukup terjal
menyebabkan arus menjadi kuat, tetapi dasar sungai berikutnya yang tiba-tiba
landai akan menyebabkan arus menjadi tertahan, akibatnya menjadi terbalik
membentuk putaran diatasnya. Sekilas back
Curling mirip dengan standing wave tetapi gelombang ini mempunyai daya balik yang lebih kuat.
Gambar
5 Back Curling
5.
Pusaran Air (Eddies)
Eddies
adalah dimana air berhenti atau mengalir ke hulu (up Stream). Eddies terbentuk karena adanya arus yang
menabrak rintangan seperti batu atau benda-benda lain dan tidak dapat melewati
rintangan itu akan terjadi kekosongan atau kekurangan air serta perbedaan
tekanan air. Oleh sebab itu, maka air dari arah lain akan mengalir ke atas (up stream)
untuk menyamakan permukaan dengan daerah
lain, jadi semakin deras arus yang mengalir akan semakin kuat eddies yang ditimbulkan.
Kegunaan Eddies:
a.
Sebagai tempat
berhenti (stop)
b.
Sebagai break atau
rem/mengurangi kecepatan
c.
membantu membelokan
perahu/manuver
Gambar
6 Eddies
Diantara eddies dan arus akan terbentuk garis
pembatas yang disebut eddies line atau ada yang menyebutnya eddies fences.
Macam-macam
Eddies:
a.
Midstream Eddies
Eddies
yang yang terletak di tengah sungai, seperti ada rintangan atau batu di tengah
sungai, maka akan terbentuk eddies di
tengah sungai di balik batu atau rintangan itu.
b.
Shortline Eddies
Eddies
yang terletak di pinggir sungai, seperti adanya tikungan, tonjolan atau
cekungan di pinggir sungai.
Selain adanya
pembagian macam-macam eddies diatas,
ada juga pembagian jenis-jenis eddies berdasarkan deras arus. berikut ini
adalah beberapa jenis eddies yang diklasifikasikan berdasarkan kuatnya arus
atau derasnya arus:
a.
Powerfull Eddies
Eddies
yang timbul akibat halangan yang besar dan arus yang kuat.
b.
Mild Eddies
Eddies
yang timbul akibat arus lemah walaupun halangannya besar. Jadi semakin kuat
arus yang mengalir maka semakin kuat dan besar eddies yang ditimbulkan.
6.
Belokan Sungai (Bends)
Pada belokan
sungai, arus yang cepat dan aliran yang dalam terdapat pada lingkaran luar
belokan sungai, hal ini diakibatkan oleh adanya kekuatan sentrifugal, sehingga
aliran permukaan yang lebih cepat mengarah dan menumpuk sepanjang tepi belokan
sungai bagian luar.
Gambar
7
Bends
7.
Pendangkalan Sungai
(Shallows)
Gambar
8 Shallows
Jika penampang
sungai melebar akibatnya akan membuat permukaan air menurun. Jika terjadi
pendangkalan yang dapat menyulitkan dalam pengarungan, maka yang perlu diingat
adalah permukaan air dengan ombak yang besar menunjukkan aliran sungai yang
dalam. (http://id.scribd.com/doc/31904862/Materi-Dasar-Rafting)
Pengarungan sungai
berjeram memerlukan keterampilan melalui proses latihan dan penambahan jam
terbang yang simultan (berkelanjutan). Kemampuan membaca sifat sungai tidak
hanya tergantung pada kemampuan intelektual, tapi juga sering melakukan
pengarungan itu sendiri. Kemampuan mengendalikan perahu memerlukan suatu pemahaman
tentang segala teknik mendayung yang hanya dapat dicapai dengan banyak latihan.
(Pebriana
Hidayat, 2011:11)
Untuk melatih kemampuan
berarung jeram tidak harus langsung pada sungai yang berjeram, tetapi dari
sungai yang tenang kemudian berangsur-angsur meningkat pada sungai yang
berjeram mudah hingga sulit.
1.
Teknik
mendayung
a.
Teknik Mendayung
Oar
Gambar
9 Dayung Oar
Posisi duduk
pendayung oar berada ditengah perahu yang dilengkapi dengan rangka untuk tempat
duduk dan pegangan dayung. Dalam teknik mendayung dengan oar hanya dikenal dua macam kayuhan yaitu dayung maju dan dayung
mundur. Jika menginginkan perahu bergerak kedepan maka digunakan dayung maju,
sedangkan dayung mundur untuk menghentikan perahu yang sedang bergerak maju
atau memang menginginkan perahu bergerak mundur. Jika ingin memnelokkan perahu
ke kanan maka tangan kiri mendayung maju dan tangan kanan mendayung mundur, dan
sebaliknya jika ingin membelokkan kekiri.
b.
Teknik Mendayung
Paddle
Berarung jeram
menggunakan teknik paddle merupakan
kerja tim, karena setiap awak perahu dituntut mempunyai pengertian dan peran
yang sama dalam pengendalian perahu. Sebuah tim yang sudah berpengalaman dapat
mengatasi hampir semua tingkatan kesulitan dalam arung jeram, bilamana teknik paddle ini sudah dipahami dan
dipelajari.
Cara duduk ada
dua, yang pertama posisi duduk seperti menunggan kuda (cowboy Style) yaitu kedua
kaki pendayung menjepit lingakaran tabung perahu, dan yang kedua posisi duduk
seorang perempuan duduk dibelakang motor atau seorang perempuan yang sedang dibonceng dimotor (nantahala style) yaitu kedua kaki masuk kebagian dalam perahau.
Gerakan dan
arah dayung yang perlu dipahami oleh awak perahu, meliputi:
1) Dayung maju (forward
stroke), tujuan dari dayung maju ini adalah untuk menggerakkan perahu
kearah depan (maju). Caranya yaitu dengan cara menancapkan dayung didepan
kemudian ditarik kebelakang sampai sejajar dengan pantat. Angkat bilah dayung
ulangi ke posisi semula dan seterusnya.
Gambar
10 Dayung Maju
2) Dayung balik/mundur (back
stroke), Tujuan dari dayung mundur ini adalah untuk menggerakkan
perahu kebelakang ataupun untuk memperlambat laju perahu. Caranya yaitu kebalikan dari dayung maju yaitu dengan
menancapkan bilah jauh dibelakang posisi badan kita kemudian tarik kedepan
sampai posisi awal dayung maju. Hal yang perlu diperhatikan dalam mendayung
yaitu usahakan jangan hanya menggunkanan kekuatan tangan akan tetapi dibantu
dengan otot perut sehingga dayungan yang dihasilkan akan lebih kuat.
Gambar 11 Dayung
Mundur
3)
Dayung tarik (draw stroke),
dilakukan untuk menggeser perahu mendekati posisi yang diinginkan dengan cara
menancapkan dayung jauh ke samping dan menariknya ke arah perahu.
4)
Dayung
tolak/menyamping (pry stroke), merupakan kebalikkan dari
dayung tarik tetapi tujuannya membantu melengkapi dayung tarik untuk
mengendalikan perahu ke posisi yang diinginkan. Juga sering digunakan kapten
perahu yang duduk dibelakang perahu untuk membelokkan perahu.
Gambar 12 Dayung
tarik & Dayung tolak
5)
Dayung pancung
(cross-bow draw Stroke), dayungan
ini biasa dilakukan oleh para pendayung depan apabila ingin menggeser perahu ke
samping. dayungan ini dilakukan oleh pendayung depan dengan melakukan dayung
tarik dari depan memotong moncong perahu.
Gambar 13 Dayung Pancung Kiri & Kanan
6) C – Stroke,
gunanya
untuk membelokkan perahu
dengan cepat. Caranya
dayung digerakkan membentuk
huruf ”C” baik dari depan ke belakang maupun dari belakang ke depan
dan diikuti dengan gerakan badan. Dayungan ini hanya digunakan oleh skipper.
Gambar 14 C –
Stroke
7) J – Stroke, gunanya untuk mempertahankan
kemiringan perahu, atau sering dipakai untuk menggerakkan sambil mengemudikan
perahu di air yang tidak terlalu deras tanpa bantuan peserta lain.
J – stroke dapat dilakukan dengan cara dayung digerakkan oleh skipper membentuk huruf "J" dari depan ke belakang, terus dibuang keluar.
J – stroke dapat dilakukan dengan cara dayung digerakkan oleh skipper membentuk huruf "J" dari depan ke belakang, terus dibuang keluar.
Gambar 15 J –
Stroke
8) Scaling, gunanya untuk mempertahankan
kemiringan dan arah perahu. Bila memasuki jeram, karena perahu bisa
berubah arah dan kemiringannya apabila perahu tersebut melintasi hole, ombak,
atau eddy, juga sangat efektif untuk mengemudikan perahu tanpa
bantuan peserta lain. Dayung ini dapat dilakunan dengan
mengkombinasikan beberapa dayungan atau semua dayungan tersebut.
2.
Aba-aba Skipper
Ada beberapa
komando yang sering digunaka oleh skipper,
yaitu:
a.
Maju yaitu komando
yang memerintahkan semua awak harus mendayung maju.
b.
Mundur yaitu
komando yang memerintahka semuan awak perahu harus mendayung mundur.
c.
Stop yaitu komando
yang memerintahkan semua awak perahu berhenti mendayung.
d.
Kanan maju yaitu
komando yang memerintahkan awak perahu yang berada di lambung kanan perahu
mendayung maju.
e.
Kiri maju yaitu
komando yang memerintahkan awak perahu yang berada di lambung kiri perahu
mendayung maju.
f.
Kanan mundur yaitu
komando yang memerintahkan awak perahu yang berada di lambung kanan perahu
mendayung mendayung.
g.
Kiri mundur yaitu
komando yang memerintahkan awak perahu yang berada di lambung kiri perahu
mendayung mundur.
h.
Kanan maju kiri
mundur untuk memutarkan perahu ke kiri.
i.
Kiri maju kanan
mundur untuk memutarkan perahu ke kanan.
j.
Boom yaitu untuk
siaga bila ada strainer atau hambatan.
k.
Pancung kanan yaitu
untuk membelokan perahu ke kanan. Dayungan ini dilakukan oleh pendayung depan.
l.
Pancung kiri yaitu
untuk membelokan perahu ke kiri. Dayungan ini dilakukan oleh pendayung depan.
m. Draw yaitu untuk menggeser perahu ke kanan atau ke kiri.
Dengan cara pry stroke dan draw stroke.
n.
Pindah kiri, yaitu
semua awak perahu pindah kebagian kiri perahu.
o.
Pindah kanan, yaitu
semua awak perahu pindah ke bagian kanan perahu.
p.
Pindah depan, yaitu semua awak perahu pindah ke bagian
depan.
q.
Pindah belakang,
yaitu semua awak perahu pindah ke bagian belakang perahu.
3.
Pengintaian (Scouting)
Melakukan pengintaian terhadap arus-arus sungai yang belum dikenal merupakan suata yang bijaksana, khususnya bagi tingkat
pemula. Pengintaian sejumlah deretan arus-arus sungai,
meliputi proses pengamatan yang dilakukan pada tepian sungai dari beberapa
sudut pandang. Pengintaian berguna untuk menganalisa tingkat kesulitan arus
sungai bagi kemampuan awak perahu, mellihat atau mencari jalur yang paling aman
dilewati, dan menganalisa kemungkinan terjadi trouble.
Seorang
pengintai harus bisa memformulasikan rencana yang akan dilakukan, meliputi
jalur yang akan dilalui, jalur cadangn apabila ada trouble, merencanakan teknik atau manuver yang akan dilakukan, dan
perlu tidaknya mempersiapkan tim rescue
di sisi sungai. Biasanya pengintaian dilakukan seorang skipper.
Pengintaian dilakukan dengan 2 cara yaitu:
a.
Pengintaian darat,
yang dilakukan didarat dimana perahu dihentikan dahulu dan berjalan menyusuri
sungai sambil mengamati riam yang akan kita lalui. Biasanya pengintaian ini
dilakukan bila riam yang ada didepan tidak kelihatan karena terhalang oleh
batu, belokan, atau permukaan sungai yang tiba-tiba hilang.
b.
Pengintaian diatas
perahu, yang dilakukan diatas perahu tanpa menghentikan laju perahu terlebih
dahulu. Pengintaian ini dilakukan apabila kapten ragu untuk memasuki suatu riam
yang akan dilalui. Pengintaian ini biasa disebut Read and Run.
4.
Lining
Jika setelah
pengintaian arus sungai disimpulkan tidak ada yang aman untuk dilalui, maka
caranya dengan teknik linning yaitu dengan cara menuntun perahu dengan
menggunakan tali di tepian sungai yang aman.
5.
Portaging
Jika linning tidak dapat dilakukan lagi untuk
menghidari halangan yang ada di depan dan harus mengangkat perahu menyusuri
tepian sungai (darat). Teknik ini disebut Portaging.Bila
pengarungan dilakukan dengan lebih dari satu perahu, formasi sebaiknya
dilakukan dengan menempatkan orang-orang yang perpengalaman di depan dan di
belakang, mengapit peserta yang kurang berpengalaman. Dengan formasi ini perahu
leader tidak pernah dilewati, dan perahu penyapu tidak akan mendahului. Gerak
maju dibuat bertahap, leader terlebih dahulu dan seterusnya hingga perahu
penyapu di belakang, sehingga masing-masing perahu beriringan satu-satu ke
belakang.
BAB III
III.
Selayang
Pandang Kota Tasikmalaya
Kabupaten Tasikmalaya berasal
dari kata Tasik yang
berarti keusik (pasir) dan Malaya yang
berari ngalayah (menghampar/banyak).
Letak wilayah Daerah Tingkat
II Tasikmalaya dalam kontek regional berada di sebelah Tenggara wilayah
provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat termasuk ke wilayah Priangan Timur. Daerah
perbatasannya oleh tiga wilayah administrasi, diantaranya sebelah utara
dibatasi oleh Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Ciamis, sebelah Barat dibatasi
oleh Kabupaten Garut, sebelah Timur dibatasi Kabupaten Ciamis dan satu bentang
alam Samudera Indonesia disebelah selatannya. Luas keseluruhan
sebesar 2.563,35 Km2. Sebagaian besar wilayahnya berada pada ketinggian antara
0 – 1.500 mdpl yang membentang dari arah utara dan yang terendah kearah
selatan. Secara geografis kota Tasikmalaya memiliki posisi yang strategis,
yaitu berada pada 108o 08' 38"-108o 24' 02" BT
dan 7o 10'-7o 26' 32" LS di bagian Tenggara wilayah
Propinsi Jawa Barat.
Sungai Ciwulan
merupakan sungai terbesar yang membelah Kabupaten Tasikmalaya di bagian tengah.
Disekitar Sungai Ciwulan mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai pengusaha
border dan bertani. Sungai Ciwulan juga merupakan tempat dimana pernah
diselenggarakan pelatihan Arung Jeram se-Tasikmalaya yang diselenggarakan Faji
Kota Tasikmalaya.
Untuk
menuju lokasi sungai ciwulan dapat dilewati dengan menggunakan kendaraan baik
roda dua maupun roda empat dengan mudah, dikarenakan jalan yang sudah
diaspal. Jarak tempuh dari start (Desa
Leuwi Budah Kecamatan Sukaraja) sampai Finish ( jembatan Desa sukapura
Kecamatan Sukaraja) ± 20km atau sama dengan ± 20.000 m. Secara
geografis wilayah Sungai Ciwulan berada pada posisi posisi 107 30’ – 108 52’ BT
dan 07 21’ – 07 52’ LS.
Batas wilayah Sungai Ciwulan, yaitu:
Batas wilayah Sungai Ciwulan, yaitu:
a.
Sebelah utara : WS. Citarum dan WS
Cimanuk - Cisanggarung
b.
Sebelah timur : WS. Citanduy
c.
Sebelah selatan :
Samudera Indonesia
d.
Sebelah barat :
WS. Cisadea – Cibareno.
Topografi wilayah Sungai Ciwulan sangat bervariasi mulai dari pesisir sampai pegunungan. Sungai Ciwulan berhulu sungai dari Gunung Kracak, Galunggung, Bungbulang/ dan Balitiganar. Aliran air Sungai Ciwulan rata-rata berkisar 2,37 sampai 26,5 m³/detik, debit maksimum Aliran air Sungai Ciwulan 136,67 m³/detik dan debit minimumnya 0,8 m³/detik.
Topografi wilayah Sungai Ciwulan sangat bervariasi mulai dari pesisir sampai pegunungan. Sungai Ciwulan berhulu sungai dari Gunung Kracak, Galunggung, Bungbulang/ dan Balitiganar. Aliran air Sungai Ciwulan rata-rata berkisar 2,37 sampai 26,5 m³/detik, debit maksimum Aliran air Sungai Ciwulan 136,67 m³/detik dan debit minimumnya 0,8 m³/detik.
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Kemungkinan Terburuk Ketika Memasuki Arus Sungai
Arus sungai memiliki macam-macam arus yang dapat menghambat
bahkan sampai membahayakan
saat pengarungan. Berikut berbagai
kemungkinan terburuk yang dapat dialami oleh penggiat olahraga arung jeram
ketika memasuki jenis arus sungai :
1.
Reversal
Disebabkan
oleh batu yang berada di bawah permukaan air dan menghambat aliran air,
mengakibatkan permukaan berikutnya berputar ke belakang dari bawah. Reversal kecil ini, dapat sementara
menghentikan perahu untuk berhenti, tetapi reversal
besar dapat membuat perahu terbalik dan dapat menjatuhkan awak perahu, apabila
awak perahu tidak menguasai teknik berenang di arus sungai, maka awak perahu
tersebut bisa tergulung oleh arus sungai ini dan bisa mengakibatkan kematian.
2.
Standing Wave
Kemiringan
dasar sungai yang cukup besar menyebabkan arus menjadi kuat. Tetapi karena
benturan dengan arus lambat yang mengalir datar dibawahnya menyebabkan air
menjadi naik membentuk gelombang ke atas secara tetap. Standing wave yang
mencapai ketinggian 3 meter disebut Haystack.
Haystack dapat membuat perahu akan
terbalik dan dapat menjatuhkan awak perahu dari perahu.
3.
Bends atau Belokan
Sungai
Ketika
memasuki jenis arus sungai ini para penggiat harus lebih hati-hati, karena
kalau tidak bisa menggendalikan perahu bisa terbentur pada dinding sungai yang
bisa mengakibatkan perahu terbalik dan jika awak perahu tidak dalam posisi
siap, maka awak perahu akan jatuh. Apabila terdapat strainer yang ada di pinggiran dinding sungai, maka dapat
mengakibatkan luka pada pendayung atau membuat kerusakan pada perahu. Biasanya
diarus ini terdapat undercut, apabila
masuk ke undercut perahu akan
terjebak disana dan jika awak perahu terjatuh, maka kemungkinan awak perahu
yang selamat hanya 1%.
4.
Shallow
Di
jenis arus ini para pendayung bisa aman dan tidak akan jatuh dari perahu, tapi
pada jenis arus sungai ini bisa mengakibatkan perahu wrap atau terjebak diantara bebatuan, sehingga menghambat terhadap
pengarungan.
5.
Eddies
Eddies
adalah dimana air berhenti atau mengalir ke hulu (up Stream). Eddies terbentuk karena adanya arus yang
menabrak rintangan seperti batu atau benda-benda lain dan tidak dapat melewati
rintangan itu akan terjadi kekosongan atau kekurangan air serta perbedaan
tekanan air. Apabila pusarannya besar, maka kemungkinan terburuk adalah awak
perahu akan terpental jatuh keluar dari perahu jika awak perahu tersebut tidak
siap.
B.
Teknik–Teknik
Manuver Arung Jeram
Manuver digunakan apabila perahu
akan melewati suatu kelokan sungai atau menghindari rintangan atau hambatan. Adapun
teknik-teknik manuver yang perlu kita ketahui, yaitu:
1.
Teknik ferry angles adalah sudut atau kemiringan yang
dibentuk oleh perahu terhadap pinggir sungai. Ferry
angles berguna untuk mngimbangi arus
air dengan tenaga gerak perahu dalam mencadapai tempat yang dituju. Adapun cara
untuk melakukan teknik ferry
tergantung pada teknik yang digunakan disamping kondisi hambatan yang akan
dilalui. Dalam melakukan ferry angles dikenal ada dua macam teknik,
yaitu :
a.
Up stream ferry adalah gerakan
perahu menuju ke hulu sungai dengan mempertahankan sudut kemiringan perahu.
b.
Down stream ferry adalah gerakan perahu
menuju ke hilir sungai.
Dalam melakukan teknik up stream
ferry dan down stream ferry dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a.
Back ferry pada up stream ferry dilakukan dengan cara
haluan perahu menghadap ke arah hilir. Dari posisi ini mulailah mendayung
mundur, kemudian ferry dilakukan
dengan memutar haluan 30o – 45o ke salah satu sisi.
Sedangkan pada down stream ferry dilakukan
dengan cara haluan perahu menghadap ke arah hulu. Dari posisi ini mulailah
dayung mundur, kemudian ferry
dilakukan dengan memutar haluan 30o – 45o ke salah satu
sisi.
b.
Forward ferry pada up stream ferry dilakukan dengan cara haluan
perahu ke arah hulu. Dari posisi ini mulailah mendayung maju, kemudian ferry dilakukan dengan memutar haluan 30o
– 45o ke salah satu sisi. Sedangkan pada down stream ferry dilakukan dengan cara haluan perahu ke arah
hilir. Dari posisi ini mulailah mendayung maju, kemudian ferry dilakukan dengan memutar haluan 30o – 45o ke
salah satu sisi.
Gambar 18 Ferry Angles
2.
Membelok (turn),
cara membelokkan perahu. Untuk berbelok dilakukan dengan cara menguatkan
dayungan disalah satu sisi perahu, bila ingin berbelok ke sisi berlawanan atau
dengan memperlambat laju perahu pada sisi yang akan dituju.
3.
Berputar (pivot),
cara memutarkan perahu dengan melakukan c-stroke
dan memberikan aba-aba kanan maju kiri mundur atau kiri maju kanan mundur.
Teknik ini biasa digunakan untuk mengeluarkan perahu dari eddies.
Gambar 19
Pivot
C.
Pengaruh Arus
Sungai Terhadap Teknik Manuver
Pada Saat Pengarungan
Ketika pengarungan seorang penggiat
harus mengetahui materi maupun teknik dasar pengarungan. Pengarungan
dipengaruhi oleh arus sungai dan komponen-komponen sungai dan hal tersebut
berkaitan dengan teknik dasar pengarungan yang salah satunya yaitu teknik manuver. Agar kita dapat
melakukan pengarungan dengan aman, maka teknik-teknik manuver yang digunakan ketika memasuki jenis arus di sungai, yaitu:
1.
Reversal
Dilakukan
dengan cara skipper melakukan
pengintaian jalur yang aman, bila jalur yang aman di sebelah kiri sedangkan
kita ada di sebelah kanan gunakan c-stroke
sambil perintahkan dayung maju, panjang, atau kuat. Dan bila memasuki arus
sungai ini, usahakan perahu tetap lurus dengan cara menggunakan scaling dan perintahkan dayung kuat.
2.
Standing wave
Gambar
20
Manuver di Standing Wave
Bila masuk standing wave usahakan perahu tetap berada di standing wave. Bila
posisi perahu 30o – 45o ke kiri atau ke kanan gunakan c-stroke dan j-stroke untuk mempertahankan posisi perahu mengikuti arus tersebut
agar tetap lurus.
3.
Bends
Gambar 21 Manuver di
Bends
Bends merupakan
arus yang membelok, ketika perahu memasuki bends
dilakukan dengan cara membelokkan perahu
atau haluan 30o – 45o ke kiri maupun ke kanan dengan
melakukan c-stroke tergantung arah
bends tersebut dengan perahu tetap berada di arus utama, setelah itu
perintahkan dayung kuat kepada para pendayung. Apabila skipper tidak kuat untuk membelokkan perahu perintahkan pendayung
depan dengan aba-aba pancung kiri atau kanan.
4.
Shallows
Ketika menemukan
shallows arahkan perahu ke arah arus
utama karena biasanya menunjukkan aliran sungai yang dalam dan pertahankan
perahu berada di arus utama. Jika terlanjur memasuki shallows dan terjebak atau wrap
usahakan perahu keluar dari shallows
menuju arus utama dengan memberi aba-aba pindah kiri atau pindah kanan kepada
awak perahu atau dengan menggunakan teknik dayungan apapun sesuai dengan
kondisi yang ada. Apabila tetap tidak bisa keluar dari shallows gunakan teknik linning.
5.
Eddies
Untuk keluar
dari eddies ada beberapa cara,
diantaranya dengan cara melakukan pivot
atau memutarkan perahu ketika perahu berada pada arus utama dan mengikuti
pusaran, lalu ketika mendekati arus
utama kendalikan perahu oleh skipper
ke arah mainstream dengan melakukan c-stroke
dan perintahkan komando dayung maju atau dayung panjang dan melakukan ferrying dengan posisi perahu 30o –
45o ke arah mainstream.
BAB
V
SIMPULAN
DAN SARAN
A. Simpulan
Arus sungai memiliki macam-macam
arus yang dapat menghambat bahkan membahayakan saat pengarungan.
Dari beberapa jenis arus sungai yaitu reversal,
standing wave, bends, shallows, dan eddies kemungkinan terburuknya adalah perahu terbalik, terjebak
atau wrap, dan terjatuhnya awak
perahu hingga bisa menyebabkan kematian.
Bagi
seorang
pemula yang akan berarung jeram dan ingin mendapatkan tantangan jangan gegabah
untuk melakukan pengarungan sebelum kita mengetahui dan menguasai teknik-teknik
dasar dalam pengarungan, salah satu teknik manuver. Dalam teknik manuver ini
kita dapat mengendalikan perahu saat akan melewati macam-macam arus sungai.
Dengan menguasainya teknik manuver kita bisa meminimalisir kecelakaan saat
pengarungan. Adapun teknik-teknik manuver yang perlu di pelajari adalah ferry angles, turn (membelok)
dan pivot (berputar).
Dari
hasil penelitian ini penyusun dapat menyimpulkan bahwa sebelum pengarungan
alangkah baiknya bisa menguasai teknik manuver dalam pengarungan, seperti saat
membelokkan perahu, mendayung ketika menghadapi jenis-jenis arus sungai. Setiap
melakukan teknik manuver saat memasuki jenis arus sungai selalu berbeda dalam
melakukan teknik manuver, karena di setiap arus sungai pasti kondisi atau
hambatannya berbeda-beda. Maka dari itu, sebelum memasuki jenis-jenis arus, sebaiknya
melakukan pengintaian atau scouting
agar tahu jalur mana yang aman untuk dilalui.
B. Saran
Dari
hasil penelitian yang dilakukan, penyusun memberikan beberapa saran diantaranya
:
1.
Disetiap kegiatan
yang berhubungan dengan alam, dalam perencanaannya kita harus mempersiapkan
fisik, mental, pengetahuan, dan materi.
2.
Sebelum pengarungan
kita harus melakukan simulasi terlebih dahulu.
3.
Ketika dilapangan
kita harus berkomunikasi dengan tim yang ada didarat.
4.
Sebelum melakukan
pengarungan, terlebih dahulu kita harus mengetahui karakteristik sungai yang
akan kita arungi.
5.
Sebelum pengarungan
kita harus bertanya kepada para rafter yang sudah mengarungi sungai tersebut.
6.
Sebelum pengarungan
kita harus mengetahui teknik dasar pengarungan dan teknik dasar manuver.
7.
Dalam melakukan
pengarungan minimalnya kita harus mengetahui cara menyelamatkan diri (self rescue).
8.
Dalam pengintaian
atau scouting sebaiknya harus lebih
teliti karena karakteristik sungai itu bisa berubah tanpa kita sadari.
9.
Jangan lupa membawa
perbekalan secukupnya.
10. Jangan lupa sebelum melakukan kegiatan kita harus berdoa.
11.
Jagalah kekompakan.
DAFTAR
PUSTAKA
A.
Buku
.Modul
Diklat Arung Jeram River Rescue.
Burhani, Pupung.
(2009). Kategori dan Penilaian Kelas yang
Dipertandingkan dalam Kejuaraan Arung Jeram. Makalah: MPA KHANIWATA
Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Tidak dipublikasikan
Hidayat, Pebriana.
(2011). Pengaruh Jeram Terhadap Teknik
Pengarungan di Sungai Citanduy Kota Tasikmalaya. Makalah: MPA KHANIWATA
Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Tidak dipublikasikan.
MPA KHANIWATA. (2009). Olahraga Arus Deras. Tasikmalaya: MPA
KHANIWATA Universitas Siliwangi Tasikmalaya.
Nurdiansyah, Cecep
Reza. (2010). Pengaruh Klasifikasi Grade
Pada Arung jeram. Makalah: MPA KHANIWATA Universitas Siliwangi Tasikmalaya.
Tidak dipublikasikan.
Ramdani, Acep Rahmat.
(2009). Pengaruh Pemahaman Teori Safety
Prosedur Arung Jeram Terhadap Pengarungan di Sungai Citarum Rajamandala
Kabupaten Bandung. Makalah: MPA KHANIWATA Universitas siliwangi
Tasikmalaya. Tidak dipublikasikan.
B.
Internet






















